BAB II
PEMBAHASAN
A.
Identifikasi
Suku / masyarakat Batak hidup di kawasan Sumatra Utara.
Sebagian masyarakat yang tinggal di daerah ini adalah masyarakat Batak. Suku
Batak pertama sekali mendiami daerah karo dan kawasan danau Toba.
Sebagai bagian dari sejarah bangsa, budaya Batak sudah ada
sejak berabad-abad tahun yang lalu. Dimulai dari kerajaan Singamangaraja yang
pertama (kakek buyut Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional Indonesia),
suku Batak tetap eksis sampai saat ini dengan tetap mempertahankan
identitasnya. Pewaris kebudayaan Batak tetap menjaga, memelihara serta
melestarikan Budaya Batak sebagai kebudayaan warisan nenek moyang. Budaya Batak
yang bersifat kekeluargaan, gotong royong dan setia kawan telah mengakar disetiap
langkah hidup orang Batak. Budaya Batak sudah menjadi falsafah hidup bagi
warganya ditengah era globalisasi dewasa ini.
Identitas kesukubangsaan merupakan internalisasi nilai yang
diwariskan oleh orang tua secara informal kepada setiap anak sejak dari kecil
untuk membangun eksistensi ke-Batakan-nya (habatahon), yang kelak dapat
merupakan jalan, wahana, dan alat memasuki tujuan hidup suku bangsa Batak. Dengan
demikian, identitas budaya ini disebut sebagai nilai instrumental (instrumental
values). Visi suatu suku bangsa adalah tujuan hidup suatu kolektif, dalam hal
ini tujuan suku bangsa Batak, yang merupakan tujuan akhir yang diidam-idamkan
masyarakat. Dengan demikian, visi tujuan hidup ini disebut sebagai nilai
terminal (terminal values). Pedoman interaksi merupakan landasan interaksi
masyarakat, yang berfungsi menentukan kedudukan, hak, dan kewajiban masyarakat,
mengatur serta mengendalikan tingkah laku masyarakat dalam kehidupan sosial
sehari-hari, dan menjadi dasar demokrasi untuk penyelesaian masalah terutama
secara musyawarah dan mufakat dalam masyarakat Batak Toba.
B.
Interaksi
Sosial Dalam Masyarakat Batak
Sistem interaksi pada masyarakat
Batak adalah Dalihan Na Tolu ”Tungku Nan Tiga”, yang terdiri atas
dongan tubu (pihak semarga), boru (pihak penerima istri), dan hula-hula (pihak
pemberi istri). Dalam interaksinya, setiap orang akan memiliki sikap
berperilaku yang berbeda pada masing-masing pihak itu. Orang akan manat
mardongan tubu ”hati-hati pada teman semarga”, elek marboru ”membujuk pada
pihak penerima istri” , dan somba marhula-hula “hormat pada pihak pemberi
istri”. Jelas bahwa nilai interaksional ini hanya bisa dipahami, bahkan
dijelaskan, setelah memiliki dan memahami nilai identitas.
Visi orang
Batak sangat jelas, yakni ingin memiliki Hagabeon-Hamoraon-Hasangapon.
Istilah hagabeon berarti ”mempunyai keturunan terutama anak laki-laki”,
hamoraon berarti ”kekayaan atau kesejahteraan” , dan hasangapon berarti
”kehormatan”. Hamoraon dan hagabeon sangat jelas indikatornya, tetapi
hasangapon agak abstrak: hasangapon adalah hagabeon plus hamoraon. Untuk
mencapai hagabeon, orang harus menikah; untuk mencapai hamoraon, orang harus
mandiri, kerja keras, gotong royong, dan berpendidikan, yang kesemuanya membuat
orang dapat mencapai hasangapon. Oleh karena hagabeon-hamoraon-hasangapon itu
merupakan visi dan tujuan kehidupan orang Batak, maka itulah yang disebut
dengan nilai terminal.
Akhirnya, nilai
utama Budaya Batak, yakni identitas sebagai instrumental values, sistem
interaksi sebagai interactional values, dan visi sebagai terminal values dapat
difungsikan dan diwariskan dalam pembentukan sumber daya manusia untuk mencapai
keberhasilan pembangunan suku bangsa Batak. Pewarisan, internalisasi, dan
resosialisasi nilai-nilai budaya di atas sejak dini kepada masyarakat Batak
akan menciptakan sumber daya manusia yang betul-betul menjadi human capital
terutama di daerah bonapasogit.
Manusia sebagai
sosok dan tokoh selalu menarik diperbincangkan dari aneka sudut pandang.
Perbincangan akan lebih menarik bila sosok dan ketokohan seseorang relevan dan
kontributif bagi pengembangan sumber daya generasi muda. Sosok dan tokoh yang
menyejarah dapat menjadi acuan untuk membangun sikap dan semangat patriotisme.
Manusia dalam konteks budaya adalah individu yang mampu berperan sebagai
penggagas, pelaku, dan penghasil. Ketiga peran ini terakumulasi dan
termanifestasi dalam prestasi (achievement). Gagasan, tindakan dan kinerja
manusia yang berlandaskan pada prestasi gemilang sampai kapanpun akan menjadi
idaman dan sumber inspirasi bagi tiap-tiap individu. McClelland, (1987) berkata
bahwa ada tiga motif sosial yang dapat membuat orang berhasil, yakni motif
berprestasi (the achievement motive), motif berkuasa (the power motive), dan
motif persahabatan (the affiliation motive). Ketiga motif sosial itu ternyata
ditentukan oleh lingkungan budayanya. Tanpa sistem marga Dalihan Na Tolu,
sukubangsa Batak sudah lama lenyap oleh kemajuan zaman.
Suku bangsa yan terdapat dala
masyarakat Batak ialah Karo, Toba, dan simalungun. Dari
suku bagsa ini terdiri dari beberapa marga dan sub marga.
C.
Mata
Pencaharian Hidup
Sebagian besar masyarakat Batak Toba
saat ini bermatapencaharian sebagai petani, peladang, nelayan, pegawai,
wiraswasta dan pejabat pemerintahan. Dalam berwiraswasta bidang usaha yang
banyak dikelola oleh masyarakat adalah usaha kerajinan tangan seperti usaha
penenunan ulos, ukiran kayu, dan ukiran logam. Saat ini sudah cukup banyak juga
yang memulai merambah ke bidang usaha jasa.
Masyarakat tradisional Batak Toba
bercocok tanam padi di sawah dan juga mengolah ladang secara berpindah-pindah.
Pengelolaan tanaman padi di sawah banyak terdapat di daerah selatan Danau Toba.
Hal ini disebabkan oleh daerah tersebut adalah dataran yang landai dan terbuka
sehingga memungkinkan untuk bercocok tanam padi di sawah. Sedangkan ladang
banyak terdapat di daerah utara (Karo, Simalungun, Pakpak, dan Dairi). Kawasan
ini berhutan lebat dan tertutup serta berupa dataran tinggi yang sejuk sehingga
mengakibatkan lahan ini lebih memungkinkan untuk pengolahan ladang. Jika anda
mendengar daerah Karo sebagai peghasil sayuran dan buah yang potensial, ini
adalah salah satu dampak positif yang dihasilkan oleh keberadaan bentuk lahan
tersebut.
Sebelum teknologi pengolahan pangan
mencapai daerah tano Batak, hasil pengolahan tanaman padi di sawah hanya dapat
menghasilkan panen satu kali dalam satu tahun. Hal ini disebabkan oleh
pengolahan tanah yang tidak begitu baik, irigasi yang terbatas dan juga tanpa
penanganan tanaman yang terampil. Demikian halnya dengan hasil pengolahan
tanaman di ladang, hanya dapat menghasilkan panen satu hingga dua kali saja
lalu kemudaian lahan tidak dapat digunakan lagi. Kemudian ladang tersebut akan
ditinggalkan dan berpindah ke ladang yang baru. Dahulu kala,pembukaan ladang
yang baru dimulai dengan pemilihan lahan melalui ritual bersama seorang datu
(dukun) yang disebut parma-mang. Lahan yang biasanya dijadikan ladang adalah
lahan yang tidak ditempati atau kawasan hutan alami yang belum dijamah oleh
manusia. Kemudian lahan tersebut dibersihkan dengan cara dibakar. Upacara
selanjutnya adalah memberikan sesaji kepada penunggu lahan agar tidak
mengganggu pengolah ladang dan juga sekaligus sebagai upacara pemilihan hari
baik untuk mulai menanam. Selama musim pembukaan lahan ini, masyarakat kampung
dilarang untuk keluar-masuk kampung. Hal ini dilakukan untuk menghindari mala
petaka dan bahaya yang mungkin terjadi karena penunggu lahan yang merasa
terusik. Hmm...sekarang sih keberadaan datu ini sudah tidak menjadi dominan
lagi, akan tetapi kebiasaan membuka lahan baru ini masih tetap ada lo...
Sepertinya tidak hanya orang Batak saja yang melakukan ritual dan kebiasaan ini
ya.
Tanaman yang sering ditanam di
ladang ini adalah tebu, tanaman obat, ubi, sayu-sayuran dan mentimun. Demikian
juga pohon aren yang sengaja ditanam di tengah ladang untuk menghasilkan tuak,
sejenis minuman beralkohol, yang menjadi kesukaan masyarakat Batak. Ada pula
beberapa komoditi unggulan yang menjadi kelebihan suatu daerah. Seperti hasil
panen utama dari daerah Simalungun dan Mandailing adalah jagung dan ubi kayu,
serta beragam sayuran. Dari daerah Pakpak yang menjadi komoditi unggulannya
adalah kemenyan dan kapur barus. Bayangkan betapa kayanya tano Batak ini.
Saat ini masyarakat Batak sudah
banyak yang mengolah padi hibrida di sawah mereka, tentunya orang Batak tidak
mau ketinggalan dari yang lainnya. Satu kemajuan ini bagi orang Batak. Tetapi
yang saya sayangkan adalah dampak yang diakibatkan oleh pola pikir baru ini.
Masyarakat jadi sangat tergantung dengan hasil panen dengan bibit padi hibrida
yang "katanya berlipat ganda" tanpa melakukan proses pengolahan lahan
dengan semestinya. Bagaikan mengharapkan hujan turun dari langit saja
Beralih kepada masa pengaruh
perkembangan ekonomi terhadap pertanian di tanah Batak. Pengaruh perkembangan
perekonomian tersebut mulai terlihat ketika penjajah memasuki daerah Tano Toba.
Produksi tanaman padi dan hasil ladang meningkat pesat. Hal ini disebabkan oleh
meningkatnya kebutuhan pangan untuk para pekerja kuli yang datang memasuki
daerah Tano Toba. Pekerja kuli ini didatangkan dari semenanjung Malasya
(mayoritas china) dan juga daerah Jawa, karena masyarakat lokal tidak bersedia
menjadi pekerja untuk penjajah. Pada tahun-tahun pertama masa pendudukan
penjajahan, pejabat kolonial telah membangun sistem transportasi yang
menggunakan tenaga para pekerja kuli tersebut.
Untuk mendukung peningkatan
produktivitas tanaman padi di sawah, pejabat kolonial menyediakan lahan yang
akan diolah untuk menanam padi dan juga memperbaiki saluran irigasi. Beberapa
tahun kemudian dilaksanakan percobaan penanaman tanaman yang berasal dari Eropa
seperti kentang dan kol di daerah dataran tinggi Karo. Masyarakat menyambut
baik usaha ini. Hasil produk pertanian yang ada dapat diekspor hingga ke luar
negeri(Penang dan Singapura). Sejumlah besar petani kecil di daerah Tapanuli
kemudian juga turut mencoba mengelola jenis tanaman yang sama. Selain tanaman
sayuran, diadakan juga percobaan penanaman tanaman perkebunan yang menjadi
cikal bakal pengembangan kawasan perkebunan di Tano Toba.
Jadi menurut saya kenapa masyarakat
batak ini banyak yang bekerja sebagai petani dan peternak, karna bisa kita
lihat bahwa dari letak geografis nyapun sangat memungkinkan bagi mereka bekerja
sebagai petani dan peternakan, selain itu banyak juga kan orang batak yang
sekarang ini menjabat menjadi pejabat pemerintahan, namun semua itu karna
keinginan mereka yang kuat untuk merubah keadaan hidupnya menjadi kalangan
menengah ke atas.
D.
Sistem Kepercayaan
Sebelum masuknya pengaruh agama Hindu, Islam, dan Kristen ke
tanah Batak, orang Batak pada mulanya belum mengenal nama dan istilah
‘dewa-dewa’. Kepercayaan orang Batak dahulu (kuno) adalah kepercayaan kepada
arwah leluhur serta kepercayaan kepada benda-benda mati. Benda-benda mati
dipercayai memiliki tondi (roh) misalnya: gunung, pohon, batu, dll yang kalau
dianggap keramat dijadikan tempat yang sakral (tempat sembahan). Orang Batak
percaya kepada arwah leluhur yang dapat menyebabkan beberapa penyakit atau
malapetaka kepada manusia. Penghormatan dan penyembahan dilakukan kepada arwah
leluhur akan mendatangkan keselamatan, kesejahteraan bagi orang tersebut maupun
pada keturunan. Kuasa-kuasa inilah yang paling ditakuti dalam kehidupan orang
Batak di dunia ini dan yang sangat dekat sekali dengan aktifitas manusia.
Dengan mulainya perkembangan jaman dan semakin modern nya jaman lalu lambat
laun masyarakat batak mengenal sebagian dewa dewa, dan yang pertama kali masuk
kepada kebudayaan batak adalah agama protestan.
Agama islam dan
agama lainya di kenal oleh masyarakat batak pada Abad ke-19. Masyarakat Batak
sebelum abad ke 19percaya pada alam seperti pohon batu dll. Setelah itu agama
kristen masuk dan menjadi agama pertama yang masyarakat batak kenal sehingga
masyarakat batak sekarang ini banyak yang menganut agama kristen dan hanya
sedikit yang memeluk agama Islam. Walaupun demikian masyarakat perdesaan suku
Batak tetap memepertahankan agama aslinya. Orang batak percaya bahwa, yang
menciptakan alam semesta ini adalah debata (ompung) mulajadi na
bolon. Dia tinggal diatas langit dan mempunyai nama-nama seseui tugasnya.
Suku batak memiliki tiga konsep dalam masalah roh, tondi, sahala, dan begu.
Tondi adalah jiwa orang itu sendiri dan sekaligus juga merupakan kekeuatan.
Sahala ialah jiwa kekuatan yang dimiliki oleh seseorang yang di dapati melalui
pembelajaran. Begu ialah tondinya orang yang meninggal.
Jadi yang telah
saya simpulkan di kebudayaan batak ini tidak akan menjadi masyarakat yang
sepenuhnya mengikuti ajaran agama sekarang, karna masyarakat batak ini sangat
kuat sekali dengan kepercayaan nya (animisme), mereka menganggap bahwa bumi di
ciptakan oleh leluhurnya yang di sebut debata ompung mulajadina balon. Nah
karna dengan ini maka mereka sangat memcintai keadaan nya sekarang.
E.
Kesenian
Orang Batak dikenal dengan sebagai masyarakat pecinta seni
dan musik. Hampir semua sub suku memiliki jenis kesenian yang unik dan berbeda
dari sub suku lainnya. Kesenian orang Batak Toba sendiri cukup beragam mulai
dari tarian, alat musik dan jenis-jenis nyanian. Tarian yang menjadi ciri khas
orang Batak Toba adalah tari Tor-tor dengan berbagai jenis nama tari untuk
berbagai jenis kegiatan yang berbeda-beda. Tor-tor atau tari-menari merupakan
salah satu kebudayaan Batak yang tertua. Dahulu kala seni tari-menari
dihubungkan dengan kepercayaan animisme yang dapat mendatangkan kuasa-kuasa
magis. Acara tari-menari diadakan untuk memohon kemenangan, kesehatan, dan kehidupan
sejahtera kepada dewa-dewa. Acara tari-menari juga diadakan bilamana ada orang
yang lahir, akil balig dan diterima sebagai anggota suku, pada saat menikah,
dan pada waktu sudah mati. Namun sekarang tarian tersebut tidak lagi bersifat
animisme, tetapi lebih dimaksudkan untuk mempererat hubungan kekerabatan dalam
Dalihan Na Tolu.
Selain menari orang Batak juga sangat senang menyanyi, baik
secara perorangan, maupun berkelompok. Lagu-lagu yang dinyanyikan bercerita
tentang pemujaan terhadap kampung halaman, keindahan negeri dan panorama yang
indah permai. Sedangkan andung/ratapan adalah salah satu jenis nyanyian yang
secara khusus dinyanyikan pada acara dukacita atau menggambarkan suasana hati
yang sedang berduka dan sedih.
Sebagai contoh,alat musik Batak Toba yang digunakan untuk
mengiringi tarian tor-tor dan nyanyian juga beranekaragam. Alat musik ini ada
yang terbuat dari bahan perunggu, kulit, kayu, dan bambu. Alat musik berbahan
perunggu seperti ogung atau gong. Ogung merupakan instrumen 4 jenis gendang
yang berlainan bunyi/nada, yaitu oloan, ihutan, doal, dan panggora. Sedangkan
alat musik dari bahan kulit, kayu dan bambu meliputi tagading, hesek, hasapi
(kecapi), saga-saga, garantung, suling (seruling), sordam dan salohat. Alat
musik tagading merupakan seperangkat instrumen yang terdiri dari 1 gondang
sebagai bas, 1 odap-odap dan 5 tagading. Orang Batak Toba juga membedakan
peralatan musik ini dalam dua golongan besar yaitu Gondang Bolon (terdiri dari
gordang(gendang besar), taganing(gendang ukuran sedang) dengan lima lempeng
kayu, odap-odap(gendang kecil) yang kadang-kadang diganti dengan lempengan
logam, gong dari tembaga ditambah empat gong perunggu, dan sarune(seruling))
dan Gondang Hasapi (terdiri dari 2 buah hasapi, sarune kecil, suling(seruling),
garantung(bumbung kecil) dengan lima lempeng kayu sebagai pengganti taganing).
Saya menegaskan disini bahwa masyarakat batak
adalah bagian budaya Indonesia yang pada masa kini masi tetap terus exis dan
takan pernah punah, namun hanya akan membuat sedikit perkembangan melalui perubahan zaman, namun
pada hakikatnya batak tetaplah batak meski berubah sebagaimanapun. Dengan
keaneka ragaman kesenian yang mereka punya dari mulai seni tari seni lukis
nyanyian dan alat music juga kerajinan lainya itu akan menjadi bukti bahwa budaya
batak akan tetap ada dan di lestarikan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar