1. Pengertian Logika
Logika menurut pemahaman saya dari penjelasan yang saya dapat dari dosen dimulai dari cara kita mengenal Logika, ada beberapa bagian yaitu sebagai berikut :
a. Pengertian Logika
Etimologi : Logika berasal dari kata Logos yang berarti “ilmu” atau “kata” atau “ucapan”. Logike yang berarti “berbicara, berkata”. Pembicaraan tentang hal-hal yang berhubungan dengan ilmu.
Historis : Logika ada saat manusia ada. Secara ke ilmuan dimulai Sophisme (Socrates), disusun oleh Aristoteles yang menyusun ke ilmuan secara sistematis.
AristotelesàDialektikaàPrecis Bekam à Lebih simpel
Terminologi : ada 2 yaitu objek material dan objek formal.
- Objek Material yaitu objek yang dikaji (pikiran manusia)
- Objek Formal yaitu objek yang mengkaji (berpikir dengan seharusnya menggunakan kaidah-kaidah agar terhindar dari falasi atau kesalahan)
· Logika sebuah kajian
· Logika adalah ilmu yang membahas tentang metode dan kaidah-kaidah berfikir agar menghasilkan putusan atau penalaran yang valid sehingga terhindar dari falasi atau kesalahan.
b. Jenis-jenis Logika
· Kualitas :
Logika Alamiah
Logika Ilmiah yaitu berfikir dengan metode dan kaidah-kaidah sehingga terhindar dari falasi.
· Metode :
Tradisional à lebih rinci
Modern à lebih praktis
· Bentuk Minor/Formal yaitu logika yang memperhatikan aturan-aturan atau kaidah-kaidah dalam bernalar. Mayor/Material yaitu logika yang memperhatikan isi dari struktur aturan itu atau tidak sesuai dengan kenyataan.
c. Tema/Pembahasan Logika
· Kata : Konsep/ide/gagasan/term
· Kalimat : Putusan/Proposisi
· Penyimpulan : Penalaran/inferensi
· Sesat Pikir : Pemukauan/falasi/kesalahan
2. Konsep (Term)
a. Pengertian
· Konsep/ide/gagasan yaitu hasil tangkapan dari pancaindera, yang ada dalam benak atau pikiran.
· Term : gagasan/ide/konsep yaitu hasil tangkapan yang diverbalkan dalam bentuk kata.
· Setiap term pasti kata, akan tetapi setiap kata belum tentu adalah term.
b. Ciri-ciri Term
· Memiliki pengertian
· Mempunyai referensi yang wujudnya abstrak atau konkret
· Bisa dijadikan subjek/predikat (S/P)
c. Jenis-Jenis Konsep
1. Kuantitas yaitu menunjukan angka, ada 4 yaitu :
· Singular yaitu menunjukan satu.
Contoh : Tuhan, seorang, seekor, sebuah dll.
· Partikular yaitu menunjukan beberapa atau bagian.
Contoh : Mahasiswa UIN 20.000 orang. Setengah 10.000 orang, sebagian 2-(20.000;-1).
· Kolektif yaitu menunjukan suatu kelompok atau kumpulan.
Contoh : TNI, POLISI dll
· Universal yaitu menunjukan keseluruhan.
Contoh : kerudung, senyum dll.
2. Kualitas yaitu menunjukan nilai, ada 3 yaitu :
· Afirmatif/positif yaitu kata yang mempunyai keberadaan sesuatu.
Contoh : pintar, pandai, rajin, senyum.
· Negatif yaitu kata yang mempunyai ketidakadaan sesuatu.
Contoh : tidak pintar, tidak pandai.
· Privatif yaitu ketiadaan sementara, kata belum.
Contoh : bodoh, malas.
3. Pertentangan ada 3 yaitu :
· Kontradiktoris yaitu pertentangan yang bersifat hakiki degan tidak memungkinkan ada alternative yang ke-3.
Contoh :
· Kontraris yaitu pertentangan yang dimungkinkan adanya alternative ke-3
Contoh : Panas-dingin = hangat
Depan-belakang = tengah
· Relatif yaitu keberadaan sesuatu karena bergantung terhadap sesuatu.
Contoh : Murid-Guru
Dosen-Mahasiswa
4. Arti ada 4 yaitu :
· Univok yaitu kata yang menunjukan satu arti.
Contoh : manusia, kursi, kerudung
· Equivok yaitu kata yang menunjukan banyak arti.
Contoh : kata “beruang” → memiliki uang, hewan, ada ruang.
· Kategorimatis yaitu kata yang mempunyai kemandirian.
Contoh : mahasiswa, kerudung.
· Sinkategorimatis yaitu kata yang memiliki kemandirian atau harus bergabung pada yang lain.
5. Makna ada 4 yaitu :
· Eksplisit yaitu menunjukan keseluruhan atau tersurat.
Contoh : Dedi membelu kerbau
· Implisit yaitu makna tersirat.
Contoh : Dedi memukul kerbau
· Necessary yaitu makna lazim.
Contoh : Dedi menarik kerbau pake tambang
· Analog yaitu makna majas.
Contoh : Dedi berotak kerbau
6. Referensi yaitu sesuatu yang memiliki acuan, ada 3 yaitu :
· Konkrit yaitu menunjukan sesuatu yang terindera.
· Abstrak yaitu menunjukan sesuatu yang tidak terindera, tapi bisa dipahami.
· Nihil yaitu sesuatu yang referensinya dari fiktif, imajinatif, khayalan.
7. Pengertian ada 2 yaitu :
· Komprehensi (konotasi) yaitu isi konsep.
· Ekstensi (denotasi) yaitu luas atau cakupan konsep.
· Semakin luas Denotasi semakin sempit Konotasi
3. Predikabel yang dimaksudkan ialah cara menerangkan sesuatu. Term ditinjau cara menjelaskan dibedakan menjadi 5 macam, yaitu genus, spesies, diferensia, propium, dan aksiden. Genus ialah himpunan golongan-golongan menunjukkan hakikat yang berbeda bentuk tetapi terpadu oleh persamaan sifat. Spesies ialah himpunan sesuatu yang menunjukkan hakikat bersamaan bentuk maupun sifatnya sehingga dapat memisahkan dari lain-lain golongan. Diferensia ialah sifat pembeda yang menunjukkan hakikat suatu golongan sehingga terwujud kelompok diri. Propium ialah sifat khusus sebagai predikat yang niscaya terlekat pada hakikat sesuatu diri sehingga dimiliki oleh seluruh anggota golongan. Aksiaden ialah sifat kebetulan sebagai predikat yang tidak bertalian dengan hakikat sesuatu diri sehingga tidak dimiliki oleh seluruh anggota golongan.
4. Predikamen yang dimaksudkan ialah cara beradanya sesuatu. Term yang paling luas adalah term “ada” atau term “yang ada”. Term “ada” selanjutnya dibagi dalam 2 macam, yaitu ada yang tidak terbatas dan ada yang terbatas. Sesuatu yang ada (ada terbatas) pasti ada unsur hakikat dan unsur sifat atau menurut filsafat dinyatakan secara singkat terdiri atas substansi dan aksidensia. Substansi adalah hakikat sesuatu yang adanya terdapat di dalam diri sendiri sebagai pendukung sifat-sifat. Aksidensia merupakan kumpulan sifat zat, yang ada sembilan sifat, yaitu kuantitas, kualitas, aksi, pasi, relasi, ruang, waktu, posisi, keadaan.
Dengan dasar lima predikabel tersebut dalam menjelaskan sesuatu, apa yang dijelaskan tempatkan sebagai spesies, kemudian mencari hubungan genus dan diferensianya, dan jika tidak mendapatkan dicari hubungan genus dengan propiumnya, dan jangan menggunakan hubungan genus dengan aksiden.
5. Definisi merupakan unsur atau bagian dari ilmu pengetahuan yang merumuskan dengan singkat dan tepat mengenai objek atau masalah. Definisi sangat penting bagi seseorang yang menginginkan sanggup berpikir dengan baik. Pernyataan sebagai suatu bentuk definisi harus terdiri atas dua bagian, yaitu definiendum dan definiens, dua bagian ini harus ada jika tidak bukanlah suatu definisi. Definisi atau batasan arti banyak macamnya, yang disesuaikan dengan berbagai langkah, lingkungan, sifat, dan tujuannya. Secara garis besar definisi dibedakan atas tiga macam, yakni definisi nominalis, definisi realis, dan definisi praktis.
Jenis-Jenis Definisi
· Nominalis yaitu definisi yang memberikan penjelasan yang alakadarnya, yang bersifat pendahuluan, permulaan, jadi hanya bersifat kulit-kulitnya saja.
o Etimologi yaitu yang mengejar asal kata, contoh : Sosiologi berasal dari kata Socio dan Logos.
o Sinonim yaitu persamaan, contoh : arca adalah patung.
o Simbolis/sematis yaitu yang bersifat symbol, contoh : ♀ adalah lambang perempuan.
o Stipulatif yaitu definisi dari hasil kesepakatan si penemu.
o Denotatif yaitu definisi yang merinci contoh.
§ Enumeratif yaitu definisi yang merinci.
§ Ostensif yaitu definisi yang diberi contoh.
· Realis yaitu definisi yang menjelaskan hakikat sebuah istilah.
o Esensialis yaitu definisi yang menjelaskan hakikat dengan merinci isi diferensianya, yang bersifat genus dan spesies.
§ Fisik yaitu definisi yang menjelaskan kadar fisiknya.
§ Hakikat/konotatif yaitu definisi yang menjelaskan kadar tentang genus dan diferensia.
· Deskriptif yaitu definisi yang menjelaskan pemaparan saja, yang bersifat aksidensial dan kausalitas.
o Aksidensial (Genus+Diferensia)
o (Genus+Propium)
o Kausal (Sebab-Akibat)
§ Praktis yaitu definisi yang bersifat fungsional dan bersifat kemanfaatan.
· Operasional
o Kualitas yaitu praktis yang menunjukan pada isi.
o Kuantitas yaitu jumlah.
· Persuasif yaitu propaganda, definisi yang mengajak atau mempengaruhi.
6. Klasifikasi Penggolongan
Klasifikasi merupakan proses pengelompokan sifat, hubungan, maupun peranan masing-masing unsur yang terpisah dalam suatu keseluruhan untuk memahami sesuatu konsep universal. Klasifikasi bergerak dari barang-barang, kejadian-kejadian, fakta-fakta atau proses-proses alam kodrat individual yang beraneka ragam coraknya, menuju ke arah keseluruhan yang sistematik dan bersifat umum. Perbedaan antara klasifikasi dan analisis adalah sebagai berikut: Analisis lebih erat hubungannya dengan proses yang semata-mata bersifat formal, sedang klasifikasi lebih bersifat empirik serta induktif.
Pembedaan klasifikasi didasarkan atas sifat bahan-bahan yang akan digolong-golongkan disebut dengan klasifikasi kodrati, dan maksud yang dikandung oleh orang yang mengadakan penggolongan disebut dengan klasifikasi buatan, dan juga klasifikasi gabungan antara keduanya yang disebut dengan klasifikasi perantara atau klasifikasi diagnostik.
Klasifikasi kodrati ditentukan oleh susunan kodrati, sifat-sifat dan atribut-atribut yang dapat ditemukan dari bahan-bahan yang tengah diselidiki. Klasifikasi buatan ditentukan oleh sesuatu maksud yang praktis dari seseorang, seperti untuk mempermudah penanganannya dan untuk menghemat waktu serta tenaga. Klasifikasi diagnostik merupakan gabungan yang tidak sepenuhnya kodrati dan juga tidak sepenuhnya buatan.
Hukum-hukum klasifikasi atau penggolongan yang sama intinya dengan hukum-hukum analisis dapat ditentukan sebagai berikut: Klasifikasi atau penggolongan harus hanya ada satu asas tertentu. Suatu klasifikasi atau penggolongan harus sampai tuntas dan jelas. Unsur-unsur sebagai bagian untuk menyusun konsep universal harus jelas terpisah satu dengan yang lain.
7. Proposisi yaitu kalimat yang mempunyai indikasi benar atau salah. “Setiap proposisi adalah kalimat, tapi kalimat belum tentu proposisi”.
Ciri-ciri Proposisi : berbentuk dan dapat dinilai benar atau salah.
Kalimat Tanya bias diubah jadi proposisi jika diubah menjadi kalimat berita”
b. Jenis-Jenis Proposisi
1. Bentuk yaitu berdasarkan bentuk sebuah kalimat.
· Tunggal → Indra pemuda tampan
· Jamak/majemuk → Indra pemuda penggombal
2. Hubungan
· Kategori/sederhana yaitu proposisi yang tdiak memerlukan persyaratan apapun dan itu biasanya berbentuk tunggal.
· Kondisional yaitu proposisi yang memerlukan persyaratan.
o Hipotetik yaitu proposisi yang menunjukan syarat.
o Disjungtif yaitu kalimat yang menunjukan pilihan atau pengatauan.
o Konjungtif yaitu kalimat yang menunjukan kesetaraan predikat.
Contoh :
Kategori : Indra pemuda tampan
Hipotetik : Jika mendung maka akan turun hujan
Disjungtif : Indra ada di Cianjur atau di Bandung
Konjungtif : Ir. Soekarno adalah proklamator dan presiden RI
3. Isi
· Analitik yaitu proposisi diman predikatnya sudah termasuk pada subjek, bersifat apriori (mendahului pengalaman), metodenya deduktif.
Contoh : Mangga adalah buah-buahan
· Sintetik yaitu proposisi dimana predikatnya belum tentu ada dalam subjek, bersifat aposteriori (memerlukan pengalaman)m metodenya induktif.
Contoh : Mangga itu manis
4. Kualitas
· Afirmatif yaitu kalimat positif, mengiyakan atau menegaskan kebenaran subjek.
· Negatif yaitu predikat tidak menegaskan kebenaran subjek, kalimatnya mengingkari subjek.
5. Kuantitas menunjukan pada jumlah.
· Partikular → beberapa, sebagai, tidak jika, ada yang
· Universal → diawali dengan kalimat seluruh, semua, tak seorangpun, tak satupun dll
· Singular→ mnunjukan pada satu, seekor, seorang sebuah dll
c. Istilah/Struktur
Ada 4 Istilah :
· Quantor yaitu kata yang menunjukan kuantitas, biasanya terdapat di awal kalimat. (pembilang)
· Subjek yaitu kata yang memerlukan penjelasan.
· Kopula yaitu kata yang menghubungkan atau menunjukan hubungan subjek dengan predikat. (negasi/apirmasi)
· Predikat yaitu kata yang menerangkan atau menjelaskan subjek.
d. Sifat-sifat Proposisi
Kalau proposisi dibandingkan yang satu dengan yang lain, maka ada 3 kemungkinan.
1. Yang satu bertentangan dengan yang lain (opposisi)
2. Yang satu sama nilainyadengan yang lain (ekwipollensi)
3. Yang satu diubah menjadi yang lain (konversi)
Oleh karena itu :
· Oposisi proposisi adalah proposisi yang tidak mungkin sekaligus benar, walaupun ada subjek dan predikat yang sama; oposisi ialah pembenaran dan penyangkalan terhadap yang sama; jadi terdapat pertentangan, kalau yang satu mengakui dan yang lain menyangkal tentang yang sama; ada 4 macam proposisi yang bertentangan, yaitu subaltern, kontradiktoris, kontraris, subkontraris.
· Ekwipollensi proposisi adalah suatu sifat dari proposisi, yang memiliki arti yang sama, walaupun dipakai term-term yang berbeda; oleh karena itu proposisi ekwipollen adalah proposisi yang ada arti sama, akan tetapi berbeda dalam kwantitet atau kwalitet, akan tetapi sedemikian sehingga yang satu sama nilainya dengan yang lain.
· Konversi proposisi adalah penukaran subjek di tempat predikat dan predikat di tempat subjek, dengan mempertahankan kwalitet dan kebenaran proposisi. Ada 2 macam konversi yaitu konversi sederhana dan konversi aksidentil.
e. Hukum-hukum Proposisi
1. Tidak dihasilkan kesimpulan dari dua premis negatif.
2. Dari premis-premis yang affirmative harus selalu ditarik kesimpulan yang affirmative.
3. Kesimpulan selalu mengikuti premis yang lebih lemah.
4. Dari dua premis partikulir tidak dapat ditarik kesimpulan.
f. Proposisi Kategorik
1. Pengertian
Proposisi kategorik yaitu kalimat yang bias diverifikasi atau kalimat yang dapat menunjukan nilai benar atau salah.
2. Unsur-unsur
· Kuantor yaitu menunjukan kuantitas sebuah proposisi.
· Term sebagai subjek yaitu kata yang diberi penjelasan.
· Kopula yaitu menunjukan kualitas sebuah proposisi.
· Term sebagai predikat yaitu kata yang memberi penjelasan.
* untuk kalimat universal (positif) kopula boleh tidak disebutkan.
* untuk kalimat particular (negatif) kopula wajib disebutkan.
3. Jenis-jenis Proposisi Kategorik
· Proposisi universal afirmatif, ditandai huruf A.
Contoh :
Semua manusia adalah berfikir
Manusia adalah berfikir.
· Proposisi universal negative, ditandai huruf E.
Contoh :
Semua mahasiswa SOS C tidak terlibat narkoba.
Tak seorang pun mahasiswa SOS C terlibat narkoba.
· Proposisi particular afirmatif, ditandai I.
Contoh :
Sebagian mahasiswa SOS C disiplin.
· Proposisi partikulas negative, ditandai huruf O.
Contoh :
Sebagian mahasiswa SOS C tidak terlibat narkoba.
4. Kegunaan atau Fungsi
Untuk membuat inferensi langsung (penyimpulan secara langsung), baik dengan cara eduksi maupun oposisi.
8. Inferensi adalah membuat simpulan berdasarkan ungkapan dan konteks penggunaannya. Dalam membuat inferensi perlu dipertimbagkan implikatur. Implikatur adalah makna tidak langsung atau makna tersirat yang ditimbulkan oleh apa yang terkatakan (eksplikatur). Inferensi dilakukan untuk sampai pada suatu penafsiran makna tentang ungkapan-ungkapan yang diterima dan pembicara atau (penulis).
a. Jenis-Jenis Inferensi
· Inferensi Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari hanya satu premis (proposisi yang digunakan untuk penarikan kesimpulan). Konklusi yang ditarik tidak boleh lebih luas dari premisnya.
Contoh : Pohon yang ditanam Pak Budi setahun lalu hidup. Dari premis tersebut dapat kita langsung menari kesimpulan (inferensi) bahwa : pohon yang ditanam Pak Budi setahun yang lalu tidak mati.
· Inferensi Tidak Langsung
Inferensi yang kesimpulannya ditarik dari dua atau lebih premis. Proses akal budi membentuk sebuah proposisi baru atas dasar penggabungan proposisi-proposisi lama.
Contoh :
A : Saya melihat ke dalam kamar itu.
B : Plafonnya sangat tinggi.
Sebagai missing link diberikan inferensi, misalnya :
C : Kamar itu memiliki plafon. Eduksi adalah penyimpulan langsung dari proposisi yang tersedia dengan makna yang sama struktur kalimat yang berbeda.
b. Jenis-jenis Eduksi
1. Konversi yaitu penyimpulan langsung dari proposisi dengan pemutaran subjek dan predikat.
Rumus : S=P , P=S
Jenis : A-I , E-E , I-I , O-…
Contoh :
A → Semua sapi adalah hewan
I → Beberapa hewan adalah sapi
E1 → Semua sapi tidak makan daging
E1 → Semua daging tidak dimakan sapi
E2 → Tak semuapun sapi makan daging
E2 → Tidak sebagian daging dimakan sapi
I → Sebagian gadis Bandung cantik
I → Sebagian yang cantik adalah gadis Bandung
2. Obversi yaitu penyimpulan langsung model eduksi dengan membalikan predikat.
Rumus : S=P , S tak P
Jenis : A-E , E-A , I-O , O-I
Contoh :
A → Semua mawar berduri
E → Semua mawar tak tak berduri
E → Semua monyet tidak tampan
A → Semua monyet tak tampan
I → Sebagian mahasiswa curang
O → Sebagian mahasiswa bukan tak curang
O → Sebagian manusia tidak suka merokok
I → Sebagian manusia tak suka merokok
3. Kontraposisi yaitu penyimpulan langsung model eduksi dengan menukar kedudukan subjek dan predikat pernyataan asli dan mengontradiksikan masing-masingnya.
Rumus : S=P , tak P-tak S
Jenis : A-A , E-O , O-O , I-…
Contoh :
→ Semua pembunuhan tidak diizinkan
→ Sebagian yang tak diizinkan adalah bukan tak pembunuhan
4. Inversi yaitu penyimpulan langsung dari satu proposisi kepada proposisi lain yang semakna dan mengontradiksikan subjek dan predikat.
Rumus
: S=P , tak S-tak P
Jenis
: I-O , A-E , I-E
Contoh
:
→ Yang belum datang tidak boleh masuk kelas
→
Yang sudah datang boleh masuk kelas
→
Yang telah berumur 17 tahun boleh memiliki KTP
→
Yang belum berumur 17 tahun tidak boleh memiliki KTP
Afirmasi konsekuensi, penolakan anteseden, inkonsistensi
Silogisme hipotetik adalah argumen yang premis mayornya berupa proposisi
hipotetik, sedangkan premis minornya adalah proposisi katagorik. Ada 4 (empat)
macam tipe silogisme hipotetik:
- Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengakui bagian antecedent.
Contoh:
Sekarang
hujan.(minor)
∴
Saya naik becak (konklusi).
·
Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengakui bagian konsekuennya.
Contoh:
Sekarang bumi
telah basah (minor).
∴
Hujan telah turun (konklusi)
- Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengingkari antecedent.
Contoh:
Jika politik
pemerintah dilaksanakan dengan paksa, maka kegelisahan akan timbul.
Politik
pemerintahan tidak dilaksanakan dengan paksa.
∴
Kegelisahan tidak akan timbul.
- Silogisme
hipotetik yang premis minornya mengingkari bagian konsekuennya.
Contoh:
Bila mahasiswa
turun ke jalanan, pihak penguasa akan gelisah.
Pihak penguasa
tidak gelisah.
∴
Mahasiswa tidak turun ke jalanan.
Hukum-hukum
Silogisme Hipotetik Mengambil konklusi dari silogisme hipotetik jauh lebih
mudah dibanding dengan silogisme kategorik. Tetapi yang penting menentukan
kebenaran konklusinya bila premis-premisnya merupakan pernyataan yang benar.
Bila antecedent kita lambangkan dengan A dan konsekuen dengan B, maka hukum
silogisme hipotetik adalah:
- Bila
A terlaksana maka B juga terlaksana.
- Bila
A tidak terlaksana maka B tidak terlaksana. (tidak sah = salah)
- Bila
B terlaksana, maka A terlaksana. (tidak sah = salah)
- Bila
B tidak terlaksana maka A tidak terlaksana.
Silogisme
Alternatif
Silogisme
alternatif adalah silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi
alternatif. Proposisi alternatif yaitu bila premis minornya membenarkan salah
satu alternatifnya. Kesimpulannya akan menolak alternatif yang lain.
Contoh:
∴
Jadi, Nenek Sumi tidak berada di Bogor.
Silogisme
ini jarang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam tulisan maupun
lisan. Yang dikemukakan hanya premis minor dan kesimpulan.
Contoh
entimen :
- Dia
menerima hadiah pertama karena dia telah menang dalam sayembara itu.
- Anda
telah memenangkan sayembara ini, karena itu Anda berhak menerima
hadiahnya.
Silogisme
Disjungtif
Silogisme
disjungtif adalah silogisme yang premis mayornya merupakan keputusan disyungtif
sedangkan premis minornya bersifat kategorik yang mengakui atau mengingkari
salah satu alternatif yang disebut oleh premis mayor. Seperti pada silogisme
hipotetik istilah premis mayor dan premis minor adalah secara analog bukan yang
semestinya. Silogisme ini ada dua macam yaitu:
- Silogisme
disyungtif dalam arti sempit
Silogisme
disjungtif dalam arti sempit berarti mayornya mempunyai alternatif kontradiktif.
Contoh:
Heri
jujur atau berbohong.(premis1)
Ternyata
Heri berbohong.(premis2)
∴
Ia tidak jujur (konklusi).
- Silogisme
disjungtif dalam arti luas
Silogisme
disyungtif dalam arti luas berarti premis mayornya mempunyai alternatif bukan
kontradiktif. Contoh:
Ternyata
tidak di rumah.(premis2)
∴
Hasan di pasar (konklusi).
Hukum-hukum
Silogisme Disjungtif
- Silogisme
disjungtif dalam arti sempit, konklusi yang dihasilkan selalu benar,
apabila prosedur penyimpulannya valid.
Contoh:
Hasan berbaju
putih atau tidak putih.
Ternyata Hasan
berbaju putih.
∴
Hasan bukan tidak berbaju putih.
- Silogisme
disjungtif dalam arti luas, kebenaran konklusinya adalah
1.
Bila
premis minor mengakui salah satu alternatif, maka konklusinya sah (benar).
Contoh:
Budi menjadi guru atau pelaut.
Budi adalah guru.
∴
Maka Budi bukan pelaut.
2.
Bila
premis minor mengingkari salah satu alternatif, maka konklusinya tidak sah
(salah).
Contoh:
Ternyata tidak lari ke Yogyakarta
∴
Dia lari ke Solo?
9. Falasi
a.
Pengertian
Falasi atau Fallacy adalah kesalahan argumentasi. Falasi
Logika adalah kesalahan dalam berargumentasi karena logika yang keliru.
Kesalahan ini mengabaikan apakah suatu fakta benar atau tidak. Falasi hanya
mengurusi cara mengambil kesimpulan. Dalam logika, dikenal premis dan
kesimpulan. Premis adalah pernyataan atau statemen, bisa satu atau lebih, yang
dikemukakan untuk mendukung kesimpulan.
b.
Jenis-Jenis Falasi
·
Falasi Pengalihan Perhatian
Dilema keliru atau dikotomi keliru, ketidak pedulian,
efek domino atau efek ganda, penyataan kompleks.
·
Falasi Permintaan Dukungan
Permintaan dengan kekuatan, permintaan dengan simpati,
konsekuensi, bahasa prejudisial, popularitas.
·
Falasi Penggantian Subjek
Menyerang person, permintaan terhadap otoritas, otoritas
tak bernama, gaya di atas substansi
·
Falasi Induktif
Generalisasi secara gegabah, contoh yang tidak
represemtatif, analogi keliru, induksi yang mati, ekslusi,
·
Falasi Menyangkut Silogisme Statistik
Kecelakaan, kontra kecelakaan
·
Falasi Kausalitas atau Sebab Akibat
Fost hoc, efek hubungan, insignifikan, salah arah, sebab
yang kompleks, kehilangan point, mengharap pertanyaan, kesimpulan tidak
relevan, straw man.
·
Falasi Ambiguitas
Equivokasi, ampiboli, aksen
·
Falasi Salah Kategori
Kompossi, divisi
·
Falasi Non Kesimpulan