Kamis, 31 Mei 2012

perkembangan sosiologi



Pembahasan
  1. Perkembangan sosiologi
  2. Perkembangan Sosiologi di Eropa
Setelah mengetahui bahwa sosiologi merupakan sebuah ilmu pengetahuan, Anda mungkin bertanya bagaimana perkembangan sosiologi hingga mencapai bentuknya seperti sekarang. Sosiologi awalnya menjadi bagian dari fllsafat sosial. Ilmu ini membahas tentang masyarakat. Namun saat itu, pembahasan tentang masyarakat hanya berkisar pada hal-hal yang menarik perhatian umum saja, seperti perang, ketegangan atau konflik sosial, dan kekuasaan dalam kelas-kelas penguasa. Dalam perkembangan selanjutnya, pembahasan tentang masyarakat meningkat pada cakupan yang lebih mendalam yakni menyangkut susunan kehidupan yang diharapkan dan norma-norma yang harus ditaati oleh seluruh anggota masyarakat. Sejak itu, berkembanglah satu kajian baru tentang masyarakat yang disebut sosiologi.
Menurut Berger dan Berger, sosiologi berkembang menjadi ilmu yang berdiri sendiri karena adanya ancaman terhadap tatanan sosial yang selama ini dianggap sudah seharusnya demikian nyata dan benar (threats to the taken for granted world). L. Laeyendecker mengidentifikasi ancaman tersebut meliputi:
  • terjadinya dua revolusi, yakni revolusi industri dan revolusi Prancis,
  • tumbuhnya kapitalisme pada akhir abad ke-15,
  • perubahan di bidang sosial dan politik,
  • perubahan yang terjadi akibat gerakan reformasi yang dicetuskan Martin Luther,
  • meningkatnya individualisme,
  • lahirnya ilmu pengetahuan modern,
  • berkembangnya kepercayaan pada diri sendiri.
Menurut Laeyendecker, ancaman-ancaman tersebut menyebabkan perubahan-perubahan jangka panjang yang ketika itu sangat mengguncang masyarakat Eropa dan seakan membangunkannya setelah terlena beberapa abad.
Auguste Comte, seorang filsuf Prancis, melihat perubahan-perubahan tersebut tidak saja bersifat positif seperti berkembangnya demokratisasi dalam masyarakat, tetapi juga berdampak negatif. Salah satu dampak negatif tersebut adalah terjadinya konflik antarkelas dalam masyarakat. Menurut Comte, konflik-konflik tersebut terjadi karena hilangnya norma atau pegangan (normless) bagi masyarakat dalam bertindak. Comte berkaca dari apa yang terjadi dalam masyarakat Prancis ketika itu (abad ke-19). Setelah pecahnya Revolusi Prancis, masyarakat Prancis dilanda konflik antarkelas.
Comte melihat hal itu terjadi karena masyarakat tidak lagi mengetahui bagaimana mengatasi perubahan akibat revolusi dan hukum-hukum apa saja yang dapat dipakai untuk mengatur tatanan sosial masyarakat. Oleh karena itu, Comte menyarankan agar semua penelitian tentang masyarakat ditingkatkan menjadi suatu ilmu yang berdiri sendiri. Comte membayangkan suatu penemuan hukum-hukum yang dapat mengatur gejala-gejala sosial. Namun, Comte belum berhasil mengembangkan hukum-hukum sosial tersebut menjadi sebuah ilmu. la hanya memberi istilah bagi ilmu yang akan lahir itu dengan istilah sosiologi.
Sosiologi baru berkembang menjadi sebuah ilmu setelah Emile Durkheim mengembangkan metodologi sosiologi melalui bukunya Rules of Sociological Method. Meskipun demikian, atas jasanya terhadap lahirnya sosiologi, Auguste Comte tetap disebut sebagai Bapak Sosiologi.
Meskipun Comte menciptakan istilah sosiologi, Herbert Spencer-lah yang mempopulerkan istilah tersebut melalui buku Principles of Sociology. Di dalam buku tersebut, Spencer mengembangkan sistem penelitian tentang masyarakat. la menerapkan teori evolusi organik pada masyarakat manusia dan mengembangkan teori besar tentang evolusi sosial yang diterima secara luas di masyarakat.
Menurut Comte, suatu organ akan lebih sempurna jika organ itu bertambah kompleks karena ada diferensiasi (proses pembedaan) di dalam bagian-bagiannya. Menurut Spencer melihat masyarakat sebagai sebuah sistem yang tersusun atas bagian-bagian yang saling bergantung sebagaimana pada organisme hidup. Evolusi dan perkembangan sosial pada dasarnya akan berarti jika ada peningkatan diferensiasi dan integrasi, peningkatan pembagian kerja, dan suatu transisi dari homogen ke heterogen dari kondisi yang sederhana ke yang kompleks. Setelah buku Spencer tersebut terbit, sosiologi kemudian berkembang dengan pesat ke seluruh dunia, termasuk Indonesia.
  1. 2.      Perkembangan Sosiologi di Indonesia
Sosiologi di Indonesia sebenarnya telah berkembang sejak zaman dahulu. Walaupun tidak mempelajari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan, para pujangga dan tokoh bangsa Indonesia telah banyak memasukkan unsur-unsur sosiologi dalam ajaran-ajaran mereka.
Sri Paduka Mangkunegoro IV, misalnya, telah memasukkan unsur tata hubungan manusia pada berbagai golongan yang berbeda (intergroup relation) dalam ajaran Wulang Reh. Selanjutnya, Ki Hadjar Dewantara yang dikenal sebagai peletak dasar pendidikan nasional Indonesia banyak  mempraktikkan konsep – konsep penting sosiologi seperti kepemimpinan dan kekeluargaan dalam proses pendidikan di Taman Siswa yang didirikannya.
Hal yang sama dapat juga kita selidiki dari berbagai karya tentang Indonesia yang ditulis oleh beberapa orang Belanda seperti Snouck Hurgronje dan Van Volenhaven sekitar abad 19. Mereka menggunakan unsur-unsur sosiologi sebagai kerangka berpikir untuk memahami masyarakat Indonesia. Snouck Hurgronje, misalnya, menggunakan pendekatan sosiologis untuk memahami masyarakat Aceh yang hasilnya dipergunakan oleh pemerintah Belanda untuk menguasai daerah tersebut.
Dari uraian di atas terlihat bahwa sosiologi di Indonesia pada awalnya, yakni sebelum Perang Dunia II hanya dianggap sebagai ilmu pembantu bagi ilmu-ilmu pengetahuan lainnya. Dengan kata lain, sosiologi belum dianggap cukup penting untuk dipelajari dan digunakan sebagai ilmu pengetahuan, yang terlepas dari ilmu-ilmu pengetahuan yang lain.
Secara formal, Sekolah Tinggi Hukum (Rechtsshogeschool) di Jakarta pada waktu itu menjadi saru-satunya lembaga perguruan tinggi yang mengajarkan mata kuliah sosiologi di Indonesia walaupun hanya sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Namun, seiring perjalanan waktu, mata kuliah tersebut kemudian ditiadakan dengan alasan bahwa pengetahuan tentang bentuk dan susunan masyarakat beserta proses-proses yang terjadi di dalamnya tidak diperlukan dalam pelajaran hukum. Dalam pandangan mereka, yang perlu diketahui hanyalah perumusan peraturannya dan sistem-sistem untuk menafsirkannya. Sementara, penyebab terjadinya sebuah peraturan dan tujuan sebuah peraturan dianggap tidaklah penting.
Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, sosiologi di Indonesia mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Adalah Soenario Kolopaking yang pertama kali memberikan kuliah sosiologi dalam bahasa Indonesia pada tahun 1948 di Akademi Ilmu Politik Yogyakarta (sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM). Akibatnya, sosiologi mulai mendapat tempat dalam insan akademisi di Indonesia apalagi setelah semakin terbukanya kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menuntut ilmu di luar negeri sejak tahun 1950. Banyak para pelajar Indonesia yang khusus memperdalam sosiologi di luar negeri, kemudian mengajarkan ilmu itu di Indonesia.
Buku sosiologi dalam bahasa Indonesia pertama kali diterbitkan oleh Djody Gondokusumo dengan judul Sosiologi Indonesia yang memuat beberapa pengertian mendasar dari sosiologi. Kehadiran buku ini mendapat sambutan baik dari golongan terpelajar di Indonesia mengingat situasi revolusi yang terjadi saat itu. Buku ini seakan mengobati kehausan mereka akan ilmu yang dapat membantu mereka dalam usaha memahami perubahan-perubahan yang terjadi demikian cepat dalam masyarakat Indonesia saat itu. Selepas itu, muncul buku sosiologi yang diterbitkan oleh Bardosono yang merupakan sebuah diktat kuliah sosiologi yang ditulis oleh seorang mahasiswa.
Selanjutnya bermunculan buku-buku sosiologi baik yang tulis oleh orang Indonesia maupun yang merupakan terjemahan dari bahasa asing. Sebagai contoh, buku Social Changes in Yogyakarta karya Selo Soemardjan yang terbit pada tahun 1962. Tidak kurang pentingnya,
tulisan-tulisan tentang masalah-masalah sosiologi yang tersebar di berbagai majalah, koran, dan jurnal. Selain itu, muncul pula fakultas ilmu sosial dan politik berbagai universitas di Indonesia di mana sosiologi mulai dipelajari secara lebih mendalam bahkan pada beberapa universitas, didirikan jurusan sosiologi yang diharapkan dapat mempercepat dan memperluas perkembangan sosiologi di Indonesia.
  1. B.     Istilah sosiologi
1)      Sejarah timbulnya istilah sosiologi
Pada tahun 1842: Istilah Sosiologi sebagai cabang Ilmu Sosial dicetuskan pertama kali oleh ilmuwan Perancis, bernama August Comte tahun 1842 dan kemudian dikenal sebagai Bapak Sosiologi. rujukan nya Sosiologi sebagai ilmu yang mempelajari tentang masyarakat lahir di Eropa karena ilmuwan Eropa pada abad ke-19 mulai menyadari perlunya secara khusus mempelajari kondisi dan perubahan sosial.
Para ilmuwan itu kemudian berupaya membangun suatu teori sosial berdasarkan ciri-ciri hakiki masyarakat pada tiap tahap peradaban manusia, Comte membedakan antara sosiologi statis, dimana perhatian dipusatkan pada hukum-hukum statis yang menjadi dasar adanya masyarakat dan sosiologi dinamis dimana perhatian dipusatkan tentang perkembangan masyarakat dalam arti pembangunan. Rintisan Comte tersebut disambut hangat oleh masyarakat luas, tampak dari tampilnya sejumlah ilmuwan besar di bidang sosiologi. Mereka antara lain Herbert Spencer, Karl Marx, Emile Durkheim, Ferdinand Tönnies, Georg Simmel, Max Weber, dan Pitirim Sorokin(semuanya berasal dari Eropa). Masing-masing berjasa besar menyumbangkan beragam pendekatan mempelajari masyarakat yang amat berguna untuk perkembangan Sosiologi.
Émile Durkheim  ilmuwan sosial Perancis  berhasil melembagakan Sosiologi sebagai disiplin akademis. Emile memperkenalkan pendekatan fungsionalisme yang berupaya menelusuri fungsi berbagai elemen sosial sebagai pengikat sekaligus pemelihara keteraturan sosial.
Pada tahun 1876: Di Inggris Herbert Spencer mempublikasikan Sosiology dan memperkenalkan pendekatan analogi organik, yang memahami masyarakat seperti tubuh manusia, sebagai suatu organisasi yang terdiri atas bagian-bagian yang tergantung satu sama lain.
Karl Marx memperkenalkan pendekatan materialisme dialektis, yang menganggap konflik antar-kelas sosial menjadi intisari perubahan dan perkembangan masyarakat.
Max Weber memperkenalkan pendekatan verstehen (pemahaman), yang berupaya menelusuri nilai, kepercayaan, tujuan, dan sikap yang menjadi penuntun perilaku manusia. Dan di Amerika Lester F. Ward mempublikasikan Dynamic Sosiology.
Adapun Pokok bahasan sosiolgi ada empat macem yaitu sebagai berikut:
1)      Fakta sosial: sebagai cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang berada di luar individu dan mempunya kekuatan memaksa dan mengendalikan individu tersebut.
Contoh:  di sekolah seorang murid diwajidkan untuk datang tepat waktu, menggunakan seragam, dan bersikap hormat kepada guru. Kewajiban-kewajiban tersebut dituangkan ke dalam sebuah aturan dan memiliki sanksi tertentu jika dilanggar. Dari contoh tersebut bisa dilihat adanya cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang ada di luar individu (sekolah), yang bersifat memaksa dan mengendalikan individu (murid).
2)      Tindakan sosial: sebagai tindakan yang dilakukan dengan mempertimbangkan perilaku orang lain.
Contoh:  menanam bunga untuk kesenangan pribadi bukan merupakan tindakan sosial, tetapi menanam bunga untuk diikutsertakan dalam sebuah lomba sehingga mendapat perhatian orang lain, merupakan tindakan sosial.
3)      Khayalan sosiologis: sebagai cara untuk memahami apa yang terjadi di masyarakat maupun yang ada dalam diri manusia. Menurut Wright Mills, dengan khayalan sosiologi, kita mampu memahami sejarah masyarakat, riwayat hidup pribadi, dan hubungan antara keduanya. Alat untuk melakukan khayalan sosiologis adalah persmasalahan (troubles) dan isu (issues). Permasalahan pribadi individu merupakan ancaman terhadap nilai-nilai pribadi. Isu merupakan hal yang ada di luar jangkauan kehidupan pribadi individu.
Contoh:  jika suatu daerah hanya memiliki satu orang yang menganggur, maka pengangguran itu adalah masalah. Masalah individual ini pemecahannya bisa lewat peningkatan keterampilan pribadi. Sementara jika di kota tersebut ada 12 juta penduduk yang menganggur dari 18 juta jiwa yang ada, maka pengangguran tersebut merupakan isu, yang pemecahannya menuntut kajian lebih luas lagi.
4)      Realitas sosial adalah penungkapan tabir menjadi suatu realitas yang tidak terduga oleh sosiolog dengan mengikuti aturan-aturan ilmiah dan melakukan pembuktian secara ilmiah dan objektif dengan pengendalian prasangka pribadi, dan pengamatan tabir secara jeli serta menghindari penilaian normatif.
2).    Ruang Lingkup Kajian Sosiologi
Sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi mengkaji lebih mendalam pada bidangnya dengan cara bervariasi. Misalnya seorang sosiolog mengkaji dan mengamati kenakalan remaja di Indonesia saat ini, mereka akan mengkaji mengapa remaja tersebut nakal, mulai kapan remaja tersebut berperilaku nakal, sampai memberikan alternatif pemecahan masalah tersebut. Hampir semua gejala sosial yang terjadi di desa maupun di kota baik individu ataupun kelompok, merupakan ruang kajian yang cocok bagi sosiologi, asalkan menggunakan prosedur ilmiah. Ruang lingkup kajian sosiologi lebih luas dari ilmu sosial lainnya.
Hal ini dikarenakan ruang lingkup sosiologi mencakup semua interaksi sosial yang berlangsung antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, serta kelompok dengan kelompok di lingkugan masyarakat. Ruang lingkup kajian sosiologi tersebut jika dirincikan menjadi beberapa hal, misalnya antara lain:
  • Ekonomi beserta kegiatan usahanya secara prinsipil yang berhubungan dengan produksi, distribusi,dan penggunaan sumber-sumber kekayaan alam;
  • Masalah manajemen yaitu pihak-pihak yang membuat kajian, berkaitan dengan apa yang dialami warganya;
  • Persoalan sejarah yaitu berhubungan dengan catatan kronologis, misalnya usaha kegiatan manusia beserta prestasinya yang tercatat, dan sebagainya.
Sosiologi menggabungkan data dari berbagai ilmu pengetahuan sebagai dasar penelitiannya. Dengan demikian sosiologi dapat dihubungkan dengan kejadian sejarah, sepanjang kejadian itu memberikan keterangan beserta uraian proses berlangsungnya hidup kelompok-kelompok, atau beberapa peristiwa dalam perjalanan sejarah dari kelompok manusia.
Sebagai contoh, riwayat suatu negara dapat dipelajari dengan mengungkapkan latar belakang terbentuknya suatu negara, faktor-faktor, prinsip-prinsip suatu negara sampai perjalanan negara di masa yang akan datang. Sosiologi mempertumbuhkan semua lingkungan dan kebiasaan manusia, sepanjang kenyataan yang ada dalam kehidupan manusia dan dapat memengaruhi pengalaman yang dirasakan manusia, serta proses dalam kelompoknya.
Selama kelompok itu ada, maka selama itu pula akan terlihat bentuk-bentuk, cara-cara, standar, mekanisme, masalah, dan perkembangan sifat kelompok tersebut. Semua faktor tersebut dapat memengaruhi hubungan antara manusia dan berpengaruh terhadap analisis sosiologi.

DAFTAR PUSTAKA

  • Engineer, Asghar Ali.1999. Asal Usul dan Perkembangan Islam, terj. Imam Baehaki, Penerbit INSIST bekerja sama dengan Pustaka Pelajar, Yogyakarta
  • Lauer, Robert H. 2001. Perspektif Tentang Perubahan Sosial, terj. Alimandan, Rineka Cipta, Jakarta.

revolusi vespa

Hati-hati, revolusi sedang berlangsung di berbagai kota yang ada di Indonesia. Hah….! Betul, tetapi revolusi “Vespa Gembel”. Terbentuknya grup-grup Vespa Gembel di berbagai kota, bukan menunjukkan kalau pemiliknya gembel, tetapi hanya merupakan sikap mental, melawan kemapanan. Memang kalau kita amati, diam-diam sedang terjadi revolusi di berbagai kota melawan kemapanan. Misalnya munculnya kelompok anak-anak “Punk”, lalu Vespa Gembel, Geng Motor dan entah nanti apa lagi. Ingatan jadi melayang pada era tahun 70 sampai 80-an. Dunia dilanda komunitas Hipies, yang hidup menggelandang di kota-kota besar, bak masyarakat Gypsi. Hidup di tenda-tenda di sembarang tempat, mengcuhkan semua aturan, hidup bebas, termasuk free-sex, hanya untuk melawan sistem yang telah ada: kemapanan! Namun dengan perjalanan sang waktu, mereka hilang dengan sendirinya. Nah, apakah munculnya anak-anak Punk dan kelompok Vespa Gembel juga meniru seperti itu? “Ya, kami sebagai komunitas juga butuh diperhatikan oleh masyarakat kita yang semakin acuh tak acuh dan hanya mengaggungkan kelompoknya sendiri saja. Di luar kelompok mereka dianggap salah, bahkan diseblak,” tutur Sutarno (28) penduduk Bongsari, Semarang, Jawa Tengah, yang bangga dengan Vespa Gembelnya dan tergabung dalam “Scooter Butut Club”. Pernyataan itu ada benarnya juga. Ketika mereka melintas di jalan raya dengan Vespa Gembelnya, semua mata tertuju pada dirinya. Ada rasa bangga, dan sepertinya eksitensinya mereka diakui masyarakat. Inilah salah satu bentuk revolusi melawan kemapanan. Disamping itu juga ada unsur kreativitas, urakan (meminjam istilahnya WS Rendra), dan tanpa aturan. Motor vespa, atau yang dulu dikenal dengan sebutan scooter, yang sudah tua dan teronggok sia-sia, dirubah penampilannya oleh mereka. Kadang dikerjakan sendiri dalam modivikasinya, tetapi banyak juga yang menggunakan jasa bengkel setempat. Setelah disulap sesuai selera, vespa itu ada yang diselubungi daun, jala, ditempeli kaleng-keleng bekas, di depannya ditempelkan tengkorak kepala hewan bertanduk, dan lain-lain. Pokoknya, tampilannya dibuat ancur-ancuran. Karena itulah disebut sebagai vespa gembel, hasil modifikasi para penggemarnya. Begitu melihat vespa yang mereka kendarai, terlihat beda dengan tampilan vespa pada umumnya. Ada yang bodynya dibuat pendek banget, malahan sebaliknya ada yang dibuat memanjang bak ular naga. Tampilannya jadi aneh. Komunitas Vespa Gembel, ada yang menyebut diri “kelompok motor nyentrik”, atau “aliran vespa ekstrim” atau ada pula yang menamakan “komunitas vespa butut”. Sementara orang luar mengenalnya sebagai Vespa Gembel. Tampilan sengaja dibikin hancur lebur, kayak rongsokan. Hanya mesin yang performanya dibikin bagus. Dari mulai dudukan toilet, angkoran sapi, sampai binatang yang sudah diawetkan dengan dair keras, bisa ikut menghiasi. Singkat kata, tak ada batasan. Terserah imajinasi yang punya vespa. Termasuk modifikasi, ukuran panjang vespa. Ngak tau kebetulan atau bukan, tampilan vespa yang berkesan urakan tapi dengan mesin yang siap buat dibawa jalan jauh, seperti mencerminkan kepribadian para penggemarnya, yang terkesan cuek dan bebas dari aturan. Namun didalam hatinya sangat menjunjung persahabatan. Mereka seperti sang pengembara dalam film “ Mad Max”, mengembara dengan vespa kesayangan dari kota ke kota, adalah salah satu wujud betapa vespa menjadikan hidup mereka penuh warna. Dalam perjalanan itu juga, solidaritas yang ada di antara sesama pengguna vespa nyentrik itu, bisa terwujud.
.
UUUUUUUUUUYYYYYEEEEEEE……!!!!!!!!!!!!

sejarah vespa congo

Seperti telah kita sama-sama ketahui, perang yang berkecamuk di benua Afrika dalam dekade 1960?an memberikan dampak yang irasional terhadap popularitas Vespa khususnya di tanah air tercinta ini. Sebagai bagian dari kepedulian Bangsa Indonesia terhadap perdamaian dunia, maka setelah berakhirnya Perang Congo (negara ini beberapa kali berganti nama Congo, Zaire, Congo) tanggal 31 Juli 1960 PBB mendaulat Republik Indonesia untuk mengirimkan pasukannya guna menjadi bagian dari pasukan penjaga perdamaian di Negara Congo. Wujud kepedulian yang tinggi atas perdamaian dimuka bumi, Bangsa Indonesia mengutus pasukan terbaiknya ke Congo dengan sandi Pasukan Garuda Indonesia melalui beberapa kali pendaratan.
Setelah tugas sebagai pasukan penjaga perdamaian diselesaikan, Pasukan Garuda Indonesia menerima tanda penghargaan dari Pemerintah Republik Indonesia, dimana salah satunya berupa Vespa (dari beberapa sumber mengatakan bahwa dalam pemberian itu juga ada yang berbentuk uang dan beberapa peti jarum jahit). Terlihat disini Vespa sesungguhnya telah mengikat kita (para scooteris) dengan bangsa kita dalam kancah internasional, walaupun tidak pernah tertulis dalam tinta emas sejarah republik ini.
Menarik disimak bahwa penghargaan Vespa tersebut juga tidak terlepas dari tradisi dalam dunia kemiliteran. Beberapa sumber mengatakan bahwa untuk Vespa yang berwarna hijau 150 cc ditujukan bagi tentara yg lebih tinggi tingkat kepangkatannya, sementara yang berwarna kuning dan biru 125 cc untuk tingkat kepangkatan yang lebih rendah. Selain itu guna melengkapi jati diri atas Vespa dimaksud juga di sematkan tanda nomor prajurit yang bersangkutan, pada sisi sebelah kiri handlebar (stang) yang berbentuk oval terbuat dari bahan kuningan serta sebuah piagam penghargaan yang menyertainya.
Setelah itu maka pada tahun-tahun tersebut ramailah Vespa dengan sebutan Vespa Congo berseliweran di jalan-jalan, sebuah Vespa baru yang menambah tipe Vespa sebelumnya telah hadir. Kondisi ini ternyata juga memberikan dampak positif bagi penjualan Vespa di tanah air saat itu. Vespa Congo yang berbentuk bulat telah memberikan konstribusi berupa iklan gratis bagi importir Vespa di Indonesia. Perkembangan ini kemudian menimbulkan semacam stigma disini bahwa Vespa yg berbentuk bulat ya?Vespa Congo.
Jadi jangan heran apabila saat ini generasi sebelum kita menyebut Vespa bulat dengan sebutan Vespa Congo, walaupun Vespa yang dimaksud sesungguhnya adalah Vespa keluaran tahun 1962 atau Vespa keluaran tahun 1965
Seiring dengan perjalanan waktu maka mulailah sebuah evolusi kepunahan atas Vespa Congo di tanah air terjadi. Banyak sebab yang menjadikan hal tersebut terjadi, seperti telah dijualnya Vespa dimaksud oleh pemilik aslinya atau ada beberapa bagian yang rusak berat sehingga sangat sulit untuk diperbaiki. Hal ini mengingat terbatasnya jumlah Vespa jenis tersebut yang disebabkan keberadaannya juga sangat signifikan dengan jumlah tentara kita yang menerima. Walaupun penulis pernah menemui Vespa jenis tersebut yang bukan milik Pasukan Garuda Indonesia (sepertinya pernah juga Vespa jenis tersebut masuk ke Indonesia melalui importir Vespa waktu itu ), namun tetap saja pasokan akan suku cadang maupun hal-hal lain yang menyertainya, seperti spakbor depan atau speedo meternya sangat minim tersedia. Tidak demikian halnya dengan Vespa jenis lain yang masih banyak diproduksi walaupun oleh rumah produksi lokal.
Dengan kondisi tersebut di atas maka Vespa Congo mulai masuk daftar sebagai salah satu The Most Wanted Vespa in Indonesia, yang dijadikan tunggangan scooteris maupun sebagai barang koleksi bagi kolektor Vespa.

filsafat ilmu (mistik)

BAB I
PENDAHULUAN

1)    Latar Belakang
Kata “mistik”, menurut de Jong, seperti juga kata “misteri”berasal dari kata kerja yunani”mu-ein” yang ,mempunyai dua arti. Arti pertama adalah menutup mata dan mulut, dan arti kedua adalah mengantarkan seseorang kedalam rahasia lewat upacara. Pada awal penggunaannya di barat pada abad ke-5 kata”mystical”menunjukan suatu corak teologiyang hanya mengindahkan pendekatan yang melampaui akal dan pengalaman manusia. Pada pendekatan etimologis ini tampak bahwa mistik tak akrab dengan corak berfikir analitis akali yang menjadi watak ilmu pengetahuan. Berdasarkan pada uraian mengenai refleksi budaya serta mistik di atas maka dapat disimpulkan bahwa refleksi budaya mistik adalah upaya untuk melihat sisi mistik(misteri)terhadap suatu obyek. Dan karena obyek penelitian ini adalah film kuntilanak.
  1. B.   Rumusan Masalah
  2. Bagaimana hubungan filsafat ilmu dengan mistik?
  3. Mistik apa saja yang masih digunakan oleh masyarakat?
  4. Apa pemahaman masyarakat terhadap mistik?







BAB II
PEMBAHASAN
  1. 1.      DEFINISI MISTIK
Menurut asal katanya, kata mistik berasal dari bahasa Yunani mystikos yang artinya rahasia (geheim), serba rahasia (geheimzinnig), tersembunyi (verborgen), gelap (donker) atau terselubung dalam kekelaman (in het duister gehuld).
Berdasarkan arti tersebut mistik sebagai sebuah paham yaitu paham mistik atau mistisisme merupakan paham yang memberikan ajaran yang serba mistis (misal ajarannya berbentuk rahasia atau ajarannya serba rahasia, tersembunyi, gelap atau terselubung dalam kekelaman) sehingga hanya dikenal, diketahui atau dipahami oleh orang-orang tertentu saja, terutama sekali penganutnya.
Beberapa pendapat tentang paham misitk atau mistisisme :
  • Kepercayaan tentang adanya kontak antara manusia bumi (aardse mens) dan tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan tentang persatuan mesra (innige vereneging) ruh manusia (ziel) dengan Tuhan (Dr. C.B. Van Haeringen, Nederlands Woordenboek, 1948).
  • Kepercayaan kepada suatu kemungkinan terjadinya persatuan langsung (onmiddelijke vereneging) manusia dengan Dzat Ketuhanan (goddelijke wezen) dan perjuangan bergairah kepada persatuan itu (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).
  • Kepercayaan kepada hal-hal yang rahasia (geheimnissen) dan hal-hal yang tersembunyi (verborgenheden). (J. Kramers. Jz).
  • Kecenderungan hati (neiging) kepada kepercayaan yang menakjubkan (wondergeloof) atau kepada ilmu yang rahasia (geheime wetenschap). (Algemeene Kunstwoordentolk, J. Kramers. Jz).
Selain diperolehnya definisi, pendapat-pendapat tentang paham mistik diatas berdasarkan materi ajarannya juga memberikan adanya pemilahan antara paham mistik keagamaan (terkait dengan tuhan dan ketuhanan) dan paham mistik non-keagamaan (tidak terkait dengan tuhan ataupun ketuhaan).
  1. 2.      Ajaran dan Sumbernya
a)      Subyektif
Selain serba mistis, ajarannya juga serba subyektif tidak obeyktif. Tidak ada pedoman dasar yang universal dan yang otentik. Bersumber dari pribadi tokoh utamanya sehingga paham mistik itu tidak sama satu sama lain meski tentang hal yang sama. Sehingga pembahasan dan pengalaman ajarannya tidak mungkin dikendalikan atau dikontrol dalam arti yang semestinya.
Biasanya tokohnya sangat dimuliakan, diagungkan bahkan diberhalakan (dimitoskan, dikultuskan) oleh penganutnya karena dianggap memiliki keistimewaan pribadi yang disebut kharisma. Anggapan adanya keistimewaan ini dapat disebabkan oleh :
  1. Pernah melakukan kegiatan yang istimewa.
  2. Pernah mengatasi kesulitan, penderitaan, bencana atau bahaya yang mengancam dirinya apalagi masyarakat umum.
  3. Masih keturunan atau ada hubungan darah, bekas murid atau kawan dengan atau dari orang yang memiliki kharisma.
  4. Pernah meramalkan dengan tepat suatu kejadian besar/penting.
Sedangkan bagaimana sang tokoh itu menerima ajaran atau pengertian tentang paham yang diajarkannya itu biasanya melalui petualangan batin, pengasingan diri, bertapa, bersemedi, bermeditasi, mengheningkan cipta dll dalam bentuk ekstase, vision, inspirasi dll. Jadi ajarannya diperoleh melalui pengalaman pribadi tokoh itu sendiri dan penerimaannya itu tidak mungkin dibuktikannya sendiri kepada orang lain.Dengan demikian penerimaan ajarannya hampir-hampir hanya berdasarkan kepercayaan belaka, bukan pemikiran. Maka dari itulah di antara kita ada yang menyebutnya paham, ajaran kepercayaan atau aliran kepercayaan (geloofsleer).
Mengingat pengajarannya tidak mungkin dikendalikan dalam arti semestinya, maka paham mistik mudah memunculkan cabang baru menjadi aliran-aliran baru sesuai penafsiran masing-masing tokohnya. Atau juga sebaliknya mudah timbul penggabungan atau percampuran ajaran paham-paham yang telah ada sebelumnya.Karena serba mistik maka paham mistik atau kelompok penganut paham mistik tidak terlalu sulit digunakan oleh orang-orang yang ada tujuan tertentu dan yang perlu dirahasiakan karena menyalahi atau bertentangan dengan opini umum atau hukum yang berlaku sebagai tempat sembunyi.
  1. 3.     Abstrak dan Spekulatif
Materinya serba abstrak artinya tidak konkrit, misal tentang tuhan (paham mistik ketuhanan), tentang keruhanian atau kejiwaan, alam di balik alam dunia dll (paham mistik non-keagamaan). Dengan demikian pembicaraannya serba spekulatif, yaitu serba menduga-duga, mencari-cari, memungkin-mungkinkan dll (tidak komputatif). Pembicaraannya serba berpanjang-panjang, serba berlebih-lebihan dalam arti melebihi kewajaran atau melebihi pengetahuan dan pengertiannya sendiri (meski sudah mengakui tidak tahu, masih mencoba memungkin-mungkinkan). Oleh karena itu di kalangan penganut paham mistik tidak dikenal pembahasan disiplin mengenai ajarannya sebagaimana yang berlaku dalam diskusi atau munaqasyah.
  1. 4.      Sebab orang menganut paham mistik
  1. Kurang puas yang berlebihan, bagi orang-orang yang hidup beragama secara bersungguh-sungguh merasa kurang puas dengan hidup menghamba kepada tuhan menurut ajaran agamanya yang ada saja.
  2. Rasa kecewa yang berlebihan, Orang yang hidupnya kurang bersungguh-sungguh dalam beragama atau orang yang tidak beragama merasa kecewa sekali melihat hasil usaha umat manusia di bidang science dan teknologi yang semula diandalkan dan diagungkan ternyata tidak dapat mendatangkan ketertiban, ketentraman dan kebahagiaan hidup. Malah mendatangkan hal-hal yang sebaliknya. Mereka ‘lari’ dari kehidupan modern menuju ke kehidupan yang serba subyektif, abstrak dan spekulatif sesuai dengan kedudukan sosialnya.
  3. Mencari hakekat yang sebenarnya, orang yang ingin mencari hakekat hidup sebenarnya juga ada yang terjebak bahwa kebenaran hanya akan didapat dari pengalaman mistiknya.
Di antara mereka masih ada yang berusaha merasionalkan ajaran paham mistik yang dianutnya, dan ada pula yang tegas-tegas lepas sama sekali dari tuntutan kemajuan zaman ini.
FILSAFAT MISTIS IBN ARABI
  1. ESSENSI DAN EKSISTENSI
Hubungan antara Eksistensi dan Essensi menurut Ibn Arabi adalah bahwa eksistensi merupakan wujud dari essensi. Segala sesuatu bisa dikatakan eksis, wujud, atau ada jika termanifestasikan ke dalam tahapan wujud (marathib al wujud), yang menurutnya pula terdiri empat hal:
  1. Eksis dalam wujud sesuatu (wujud al syai’ fi ainih), artinya sesuatu ada dalam dirinya sendiri atau secara dzatnya benar-benar wujud.
  1. Eksis dalam pikiran (wujud al syai’ fi al ‘ilm), yaitu sesuatu muncul dalam pikiran meskipun hanya sekedar konsep atau secara mudahnya terbayang dan terangan-angan. Sesuatu itu muncul secara nyata dalam pikiran dan tidak dapat dinafikan tentang keberadaannya.
  2. Eksis dalam ucapan (wujud al syai’ fi al alfazh), mengandung makna bawasannya adanya sesuatu keluar melalui lisan dalam betuk ucapan. Sesuatu itu dapat dibicarakan dan dibincangkan bahkan dapat diperdebatkan, tapi meskipun kemunculannya – taruhlah – hanya sekedar dalam satu kata dan satu kali ucapan, sudah cukup mewakili status sesuatu itu telah mencapai tahapan wujud dalam ucapan.
    1. Eksis dalam tulisan (wujud al syai’ fi ruqum), juga tidak jauh bermakna eksis dalam ucapan. Maksudnya, hampir bisa dikatakan bawasannya ketika sesuatu itu bisa diaktualisasikan dalam ucapan – yang berari bisa dibahasakan – maka sesuatu itu pun bisa diaktualisasikan dalam tulisan. Ketika sesuatu itu telah muncul dalam tulisan di situlah sesuatu eksis dalam tulisan.
Maujudnya sesuatu ke dalam salah satu dari keempat hal tersebut sudah cukup memberikan status bahwa sesuatu itu eksis, karena dengan salah satu dari empat hal tersebut sesuatu bisa dibicarakan, dibahas, dan sekaligus menjadi bahan kajian.
Semua yang wujud dalam artian punya eksistensi – bagi Ibn Arabi dalam perspektif ontologis – terbagi dalam dua bagian, yaitu Wujud Mutlak dan Wujud Nisbi. Wujud Mutlak merupakan istilah lain dari Tuhan, yang tidak bisa didefinisikan tentang pengertiannya, karena Ia merupakan Dzat yang tidak mempunyai batas dalam semua hal. Segala sesuatu yang dapat didefinisikan berarti itu terbatas, sehingga Tuhan hanya dapat disifati tapi tidak bisa didefinisikan. Segala uraian tentang-Nya adalah kebohongan, pengkerdilan, dan pembatasan. Sedangkan Wujud Nisbi adalah sesuatu yang eksistensinya terjadi oleh dan untuk wujud lain (Tuhan). Dalam kata lain segala sesuatu yang selain Tuhan. Wujud Nisbi ini mempunyai dua bagian, yaitu wujud bebas (dzat1) dan wujud bergantung (a’radh2). Wujud bebas berupa substansi-substansi yang juga terbagi menjadi material dan spiritual. Sedangkan wujud bergantung berupa atribut-atribut, kejadian-kejadian, dan hubungan-hubungan yang berifat spesial dan temporal.
Namun dalam wujud nisbi pun tidak sepenuhnya entitas temporal (terbatas ruang dan waktu), tapi juga entitas permanen (al a’yan al tsabitah)3. Wujud nisbi yang teraktualisasikan sebagi alam dalam semua keadaan, tidak pernah meninggalkan kepermanenannya dan ketidakberubahannya, melainkan selamanya ada dalam ilmu Tuhan yang kekal dalam kebesaran-Nya.


Dari sinilah tampak jelas adanya paradoks antara entitas-entitas dalam ilmu Tuhan dengan entitas semesta, karena pada hakikatnya entitas-entitas dalam ilmu Tuhan bebas dari ruang dan waktu, tidak berwujud konkrit. Sedangkan dalam entitas semesta (alam) berwujud konkret dan terikat ruang dan waktu.


  1. A.   Hubungan Filsafat Ilmu Dengan mistik dalam kebudayaan Hukum Indonesia
Kebudayaan mempengaruhi hukum dalam masyarakat, mistik sebagai pengetahuan yang mempengaruhi pola fikir manusia pada akhirnya akan muncul dalam bentuk budaya proses kebudayaan mempengaruhi hukum menjadi budaya hukum.secara filosofis keberadaan mistik dalam budaya hukum dapat dilihat dari 3 aspek yaitu:
  • Aspek ontologis
  • Aspek epistemologis
  • Aspek aksiologis
Persoalannya menjadi pelik,apabila mistik budaya hukum, terlalu dominan sehingga telah menjadi pola fikir masyarakat,seperti dalam menentukan pada pilihan umum, atau wakil rakyat dalam menentukan ketentuan hukum apa yang diatur,oleh karena itu kenbenaran mistik sebagai suatu budaya hukum harus ditmpatkan pada posisi yang tepat serta harus di sertai dengan upaya pembuktian hukum yang tepat jika akan menjadi bagaian ketentuan tertulis, seperti pengaturan mengenai santet dalam KUH Pidana.

Menurut Koencaraningrat, kebudayaan tersebut paling sedikit memiliki 3 (tiga) wujud.:
  1. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks dari ide-ide,gagasan,nilai-nilai,norma-norma,peraturan dsb.
  2. Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat.
  3. Wujud kebudayaan sebagai benda-benda dalam karya manusia.




  1. Proses munculnya mistik dikaitkan dengan budaya hukum
Membahas mengenai epistemologi mistik, berarti berusaha mencari tahu bagaimana sejarah munculnya mistik dan bagaimana memperoleh keyakinan mistik tersebut. Sebagaimana dijelaskan mengenai hakekat mistik yang gaib, maka alat yang dapat digunakan untuk mengeahui mistik ini diantaranya adalah rasa, hati dan keyakinan seseorang. Jadi tidak melalui indera atau pun rasio atau akal manusia.
Adapun yang menjadi obyek dari mistik tersebut merupakan obyek yang gaib, kasat mata dan supra rasional, maka cara memperolehnya pun sering kali tidak menggunakan akal rasional. Mistik dapat diperkenalkan sebagai suatu bentuk dari intuisiDijelaskan bahwa intuisi yang ditemukan orang dalam pejabaran-penjabaran mistik memungkinkan untuk mendapatkan pengetahuan yang langsung yang mengatasi pengetahuan yang diperoleh dengan akal dan indra. Pengetahuan mistik telah diberi definisi sebagai kondisi orang yang amat sadar tentang kehadiran yang Maha riil. (Hubungan aku dengan tuhan / Kesadaran Kosmis)

Berikut ini beberapa cara yang dimungkinkan masuknya keyakinan mistik kepada seseorang :
- Apabila seseorang mengalami guncangan psikis, seperti perasaan tersingkir, hilangannya pegangan hidup maupun teringkari, maka dapat secara mudah gerakan kultus yang fanatik, eksklusif dan tak jarang anti sosial dapat masuk. Artinya tanpa adanya pegangan hidup, maka mistik dalam bentuk kultus dapat masuk ke diri seseorang.
- Dapat juga dengan melakukan meditasi dan pendalaman suatu aliran kebatinan yang hanya menyatakan diri berhubungan langsung dengan tuhan tanpa memiliki syarat atau aturan tertentu
WAHDAT AL WUJUD
Dengan pemahaman seperti ini, bagi Ibn Arabi, seluruh realitas yang beragam sejatinya hanya satu, yaitu Tuhan sebagai satu-satunya realitas dan realitas yang sesungguhnya. Ibn Arabi mengartikan alam sebagai Tuhan dan sekaligus bukan Tuhan, temporal sekaligus abadi, nisbi sekaligus permanen. Alam adalah bentuk eksistensi sifat-sifat Tuhan yang termanifestasikan ke dalam kosmos, sehingga segala yang ada di dalamnya adalah entifikasi-Nya. Sifat-sifat Tuhan dimanifestasikan secara seimbang dan selaras sehingga seseorang dapat menggambarkan citra sempurna “Kehadiran Ilahi” (al hadhrah al ilahiyyah), yaitu wujud yang serba meliputi yang ditunjukkan oleh kata “Allah”.4 Dua keadaan yang paradoksal ini terkumpul dalam realitas alam yang oleh Ibn Arabi dinyatakan dengan mengguakan prinsip al Jam’u bayn al Addad (kesatuan diantara pertentangan-pertentangan), atau dalam filsafat Barat dikenal dengan coincidentia oppositorum.5
Dalam usahanya untuk menjelaskan hubungan ontologis Tuhan dan alam, Ibn Arabi menyimbolkannya dengan cermin. Pertama, untuk menjelaskan tentang penciptaan alam. Penciptaan ini merupakan bentuk penampakan Tuhan. Kedua, untuk menjelaskan hubungan Yang Satu dengan yang banyak, diibaratkan Tuhan bercermin dengan bermacam model dan bentuk cermin sehingga muncul gambar yang banyak dan beragam.
Oleh karena itu, bagi Ibn Arabi, tidak ada jalan lain untuk bisa memahami realitas wujud yang hakiki kecuali dengan menyelami secara langsung lewat penghayatan dalam mistik. Pengetahuan intuitif yang diperoleh lewat penghayatan mistik inilah pengetahuan yang sebenarnya, yang paling unggul, dan yang terpercaya.6 Untuk bisa mencapai semua itu seseorang sufistik harus membersihkan jiwanya terlebih dahulu untuk menghadap Allah denga penuh cinta dan rindu. Ada lima tahapan yang harus dilalui dalam proses pembersihan jiwa tersebut, yaitu:
  1. Membersihkan diri dari segala dosa dan kemaksiatan, kemudian mengisi amalan-amalan dengan perbuatan baik.
  1. Zuhud, menghentikan pemandangan terhadap aspek fenomena dunia, dan kesadaran terhadap aspek nyata yang menjadi dasar fenomenanya.
  2. Menjauhkan diri dari segala atribut dan segala kualitas wujud kontingen dengan kesadaran bahwa semua itu adalah milik Allah semata.
  3. Menghilangkan semua yang selain Allah, tapi tidak pada tindakan itu sendiri. Di sinilah seseorang yang sedang melakukannya, kehilangan kesadaran dirinya sebagai orang yang memandang.
  4. Memandang Allah lebih sebagai essensi daripada Sebab Pertama dari realitas semesta.
Jikalau seseorang sudah bisa mencapai pada tingkatan tertinggi dan telah menyatu dengan – sifat-sifat, asma-asma, dan bayangan, bukan pada Dzat – Allah, ia akan memperoleh pengetahuan secara langsung dari Allah dalam bentuk ilham. Pengetahuan tersebut tampak memancar dari Allah dalam batinnya. Seperti halnya yang terjadi pada diri Ibn Arabi sendiri. Rujukan-rujukan dari para tokoh sebelumnya hanya digunakan untuk menerangkan dan mengibaratkan pengalaman-pengalaman batinnya. Hal ini diperkuat oleh bukti dan peryataan bahwa Ibn Arabi tidak terpaku pada salah satu tokoh.
Pada tingkatan tersebut kesempurnaan sebagai paduan seimbang antara penegasan ketakserupaan (tanzih) Allah dan penegasan keserupaan (tasybih)-Nya. Dari segi tasybih, Allah sama dengan alam, karena alam tidak lain perwujudan dan aktualisasi sifat-sifat-Nya. Sedangkan dari segi tanzih, Allah berbeda dengan alam, karena alam terikat oleh ruang dan waktu, dan Allah bersifat Absolut dan mutlak. Antra tanzih dan tasybih berhubungan langsung dengan epistemologinya. Akal diciptakan untuk memahami dan menetapkan perbedaan dan kergaman sehingga bisa berpikir abstrak. Akan tetapi ini sangat dipengaruhi sifat bawaan modus pemahaman rasional yang inheren, menjaga jarak dengan Allah dengan menegaskan tanzih dan menolak tasybih.



Macam-Macam Mistik Puasa( Ala kejawen)
  1. Mutih
Dalam puasa mutih ini seseorang tidak boleh makan apa-apa kecuali hanya nasi putih dan air putih saja.nasi putihnya pun tidak ditambah oleh apa-apa lagi(seperti gula,garam dll) sebelum melakukan puasa mutih ini, biasanya seorang pelaku harus melakukan keramas dulu sebelum membaca mantra ini.: “niat ingsun mutih”mutihaken awak,kang reged putih kaya bocah mentes lahir dia pun ijabahi ku gusti allah.
  1. Puasa Ngeruh
Dalam melakoni puasa ini seseorang hanya boleh memakan sayuran/buah-buahan saja, tidak diperbolehkan memakan daging,ikan dan telur.
  1. Puasa Ngebleng adalah menghentikan segala aktivitas normal sehari-hari, seseorang yang melakoni puasa ngbleng tidak boleh makan,minum, keluar dari rumah/kamar, atau melakukan aktivitas seksual. Waktu tidurpun harus dikurangi. Biasanya yang melakukan puasa ngbleng tidak boleh keluar dari kamarnya selama sehari semalam(24 jam) pada saat malam hari tidak boleh ada satu lampu atau cahayapun yang menerangi kamar tersebut. kamarny harus gelap gulita tidak boleh ada cahaya sedikitpun. Dalam melakoni puasa diperbolehkan keluar kamar hanya untuk buang air saja.
  2. Puasa Patigeni
Hampir sama dengan puasa ngbleng, tetapi ada perbedaan tidak boleh keluar kamar Alasan apapun, tidak boleh tidur sama sekalipun. Biasanya puasa ini dilakukan sehari semalam, ada yang melakukan 3 hari, 7 hari dsb.jika seseorang melakukan puasa patigeni ingin buang air, maka buang airnya harus di dalam kamar(dengan melakukan pispot dan yg lainnya).ini adalah mantra patigeni “niat ingsun patigeni,amateni hawa panas ing badan ingsun, amateni napsu angkara.

  1. Puasa Ngelowong
Dilarang makan dan minum dalam kurun waktu tertentu, hanya diperbolehkan tidur 3 jam saja dalam 24 jam diperbolehkan keluar rumah.


  1. Puasa Ngrowot
Puasa ini adalah puasa yang lengkap dilakukan dari subuh samapi magrib, saat sahur seseorang yang melakukan puasa ngrowot ini hanya makan buah-buahan saja.misalnya pisang 3 buah saja,dalam puasa ini diperbolehkan untuk tidur. Dan masih banyak lagi puasa-puasa lainnya yang berhubungan dengan mistik.

Dalam melakoni puasa-puasa di atas, bagi pemula sangatlah berat jika belum terbiasa, oleh karena itu disini akan dibekali dengan ilmu lambung karang, ilmu ini berfungsi  membantu menahan lapar dan dahaga.dengan kata lain ilmu ini akan membantu bagi orang-orang yang masih ragu-ragu dalam melakoni puasa di atas,selain praktis dan mudah di pelajari, sebenarnya ilmu lambung karang ini berbeda dengan ilmu-ilmu lainnya yang kebanyakan harus ditebus/dimarahi dengan puasa. Selain itu syarat/cara mengamalkannya pun sangat mudah yaitu:
  1. Mandi keramas/jinabat untuk membersihkan diri dari segala macam kekotor.
  2. Menjaga Hawa Nafsu
  3. Baca mantra lambang karang ini sebanyak 7 kali setelah shalat 5 waktu:yaitu bissmillahirahmanirahim,cempla-cempli ghendene, Wetengku saciplukan bajang
    Gorokanku sak dami aking
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu amangan wareg
    Ngungakna mekkah madinah
    Wareg tanpa mangan
    Kapan ingsun nuruti budine
    Aluamah kudu angombe
    Ngungakna segara kidul
    Wareg tanpa angombe
    Laailahaillallah Muhammad Ra







DAFTAR PUSTAKA
  1. Amien Jaiz, Masalah Mistik Tasawuf & Kebatinan (PT Alma’arif, Bandung, Cetakan 1980)
  2. Soleh, A. Khudori. 2004. Wacana Baru Filsafat Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. (hal. 145,149,143)
  3. Chitick, William C. “Ibn Arabi” dalam Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman (eds.). 2003. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam, terj. Tim Penerjemah Mizan, Buku Pertama. (hal. 622)

nanas di kota subang

BAB I
Pendahuluan
A. Latar belakang masalah
Di Subang sebagian besar penduduknya yang telah beruasia diatas 40 tahun hanya mengenyam pendidikan Sekolah Dasar, sehingga untuk menggerakan perekonomian rakyat perlu ditunjang dengan keterampilan. Untuk meningkatkan pembangunan saat ini lebih ditekankan pada generasi dibawah 40 tahun. 10 % warga Subang berada diluar subang untuk sekolah dan bekerja. Kondisi ini memberikan kontribusi negatif terhadap kota Subang sendiri, disebabkan masyarakat subang yang masih dalam kategori usia produkif lebih memilih sekolah dan bekerja ke luar kawasan subang.pembangunan dan pengembangan sarana dan prasarana pendidikan hakikatnya sudah dirintis oleh pihak Pemda, namun kendala fasilitas penunjang demi kelancaran aktivitas pendidikan dipandang masih belum memadai. perlunya keterlibatan dari semua pihak, agar pendidikan di kota Subang bisa terselenggara dengan baik, yang tentunya akan berpengaruh terhadap kondisi kabupaten Subang secara keseluruhan
B. rumusan masalah
  1. Potensi masyarakat jalancagak?
  2. Dimanakah letak Kecamatan Jalan Cagak?
  3. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas?
  4. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak?
  5. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia” dan Apakah penghasilanya itu mencukupi kebutuhan hidup nya.?
  6. Keluarga berencana di jalancagak?
C. Tujuan penilitian
  1. Teridentifikasinya ketahanan keluarga berencana, ekonomi.
  2. Untuk mengatahui perekonomian di  kecamatan jalan cagak
  3. Untuk mendapatkan informasi.


D. Metode penilitian
  1. Metode pendekatan
Metode yang di pakai untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.
  1. Lokasi penilitian
Penelitian ini di laksanakan di kecamatan jalan cagak kabupaten subang, jawa barat. Penelitian ini berlangsung sekitar  satu minggu.










BAB II
Pembahasan
  1. Potensi masyarakat jalan cagak
Jalancagak adalah wilayah yang bisa dikatakan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Subang sebelah selatan, karena letaknya sebagai pintu masuk kedua setelah Kecamatan Ciater dari arah Kabupaten Bandung Barat maka Kecamatan Jalancagak dianggap sangat strategis dalam aspek ekonomi. Administratif pemerintahan Kecamatan Jalancagak dibantu oleh 7 Desa  dengan luas wilayah secara keseluruhan adalah  3.844.364 M2 hak milik,  dan 312.877 M2 hak guna bangunan dengan 110.555 orang dengan komposisi 55.806 orang laki-laki dan 54.749 orang perempuan, dengan kepadatan rata-rata sebesar 2.047,31 Km2.
Jumlah penduduk yang besar merupakan modal dalam pelaksanaan pembangunan daerah, kerena dukungan dan peran aktif dari penduduk sangat dibutuhkan. Sehubungan dengan hal itu maka pertumbuhan dan perkembangan penduduk harus senantiasa diperhatikan yang nantinya diharapkan mampu bertindak sebagai subjek pembangunan dan berperan aktif.
Jalancagak berdasarkan data yang dihimpun dari penelitian yang dilakukan sebagian besar (mayoritas) penduduknya dalam memenuhi kesejahteraan hidup diri sendiri dan keluarganya bersumber pada sektor usaha pertanian, perdagangan, industri kecil, dan disamping sebagian penduduk bekerja sebagai PNS. Hal ini menggambarkan kepada kita bahwa lapangan kerja sektor jasa di kecamatan ini terlihat cukup signifikan kontribusinya dalam menyerap pekerja yang tercipta.
Apabila menengok kebelakang dari seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha.
Proses pergeseran struktur pekerja menurut status pekerjaan terjadi sejalan dengan kenaikan skala unit usaha. Pertama, adanya kenaikan permintaan masyarakat terhadap barang dan  jasa serta perbaikan sarana dan prasarana perhubungan (transportasi). Seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi biasanya permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga meningkat. Begitu juga, jika sarana dan prasarana transportasi semakin baik yang berdampak terhadap jangkauan pemasaran dari tiap-tiap unit usaha menjadi luas, akibatnya skala pada unit usaha cenderung mengalami peningkatan. Kedua, adanya perubahan struktur produksi dengan sektor yang sensitif terhadap skala perekonomian.

  1. Dimanakah letak kecamatan jalan cagak

Kecamatan Jalan Cagak terletak di Kabupaten Subang, yaitu salah satu wilayah penghasil nanas dan juga menjadi tempat penjualan nanas. Untuk bisa menikmati atau melihat hamparan kebun nanas, tengoklah Kabupaten Subang, sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Jalancagak, selain dari Kecamatan Jalan Cagak terdapat di Kecamatan Cijambe, atau di Cisalak. Ratusan hektar tanaman “Ananas comosus” ini terhampar luas.
“SUBANG memang sejak lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil nanas paling besar di daratan Jawa Barat karena memiliki areal yang ditanami komoditas nanas cukup luas. Tiga tahun lalu, luas panen komoditas nanas tercatat mencapai 48.629.278 pohon dengan produksi sekitar 689.151 kuintal.
Nanas yang merupakan tanaman asal Amerika dan masuk ke Indonesia awalnya dikenal sebagai tanaman pekarangan, ternyata cukup luas pengaruhnya di masyarakat Subang. Sejumlah wilayah di Subang dikenal sebagai sentra penghasil tanaman nanas antara lain, Jalancagak, Cijambe, Tambakan, dan sekitarnya”.
Wilayah ini merupakan kawasan pegunungan yang ditanami teh sehingga sepanjang kecamatan Jalan Cagak sampai Ciater dipenuhi oleh perkebunan teh seperti PT.Perkebunan Nusantara VIII sebagai BUMN Indonesia. Dalam mengenali dan menemukan kecamatan Jalan Cagak ini sangatlah mudah karena memiliki ciri yang khas yaitu, terdapatnya patung nanas di jalan antara ke Bandung, Subang, dan Sumedang sekitar 25 kilometer dari Kota Bandung yang kami jadikan sebagai kajian sejarah lokal, yang dimaksud dengan ‘sejarah lokal’ berarti sejarah yang terjadi dalam lokalitas yang merupakan bagian dari unit sejarah bangsa atau lebih tepat, negara” Mulyana dan Gunawan (2007: 17). Dijelaskan pula oleh Abdulloh mengenai lokal disini bahwa: “Pengertian kata lokal tidak berbeli-belit, hanyalah ‘tempat, ruang’. Jadi ‘sejarah lokal’ hanyalah berarti sejarah dari suatu ‘tempat’, suatu ‘locality’, yang batasannya ditentukan oleh ‘perjanjian’ yang diajukan penulis sejarah” (2005: 15). Mengapa penulisan disini mengenai “Buah Nanas sebagai Komoditas Dagang Masyarakat Jalan Cagak dalam Menunjang Perekonomian Keluarga” kami jadikan sebagai kajian sejarah local, Karena kajian kami disini menunjukan lokalitas tertentu.
  1. Mengapa Masyarakat Jalan Cagak memilih menjadi pedagang nanas.
Suasana dalam perjalanan Bandung-Subang seorang penumpang kendaraan baik itu kedaraan umum atau pribadi seperti mobil maupun motor pasti akan melihat banyaknya para pedagang nanas yang sedang memajangkan dagangan nanasnya di pinggiran jalan dengan saung (kios) berukuran 5m x 3m ditempat-tempat yang mereka anggap ramai dan strategis seperti tempat pariwisata, perapatan, bahkan depan kampus UPI sekalipun. Siapa sangka fenomena maraknya pedagang nanas itu berawal dari kecamatan ke-27 dari kabupaten Subang yaitu kecamatan Jalan Cagak yang masyarakatnya berprofesi sebagai pedagang nanas di pinggiran jalan raya Bandung-Subang. Hal tersebut disebabkan karena luasnya perkebunan nanas di kecamatan tersebut, sehingga buah nanas ini menjadi komoditi perdagangan buah utama di kecamatan tersebut karena selain nanas terdapat pula buah “manggu” (manggis), “pisitan”, “duku”, “durian” dan “salak” namun buah-buahan ini hanya ada pada musim-musim tertentu tidak seperti buah nanas yang selalu ada menjadi penghias sepanjang jalan kecamatan Jalan Cagak.
Menurut Koentjaraningrat, metode wawancara dalam rangkan penelitian masyarakat ada dua macam wawancara yang pada dasarnya berbeda sifatnya, bahwa:
  • wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi,
  • wawancara untuk mendapatkan keterangan tentang diri pribadi, pendirian dan pandangan dari individu yang diwawancara, untuk keperluan komparatif.” (1977: 163)
Selain itu menurutnya juga dijelaskan mengenai. “siapakah yang memiliki keahlian yang terbaik mengenai hal yang ingin kita ketahui, tanpa banyak harus coba-coba dahulu, adalah suatu hal yang tak mudah. Dalam suatu masyarakat yang baru, tentu kita harus memulai dari keterangan seorang informan pangkal yang dapat memberikan kepada kita petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan”. Koenjaraningrat (1977: 163-164)
Dalam metode wawancara yang kami gunakan adalah ) wawancara untuk mendapatkan keterangan dan data dari individu-individu tertentu untuk keperluan informasi, sehingga kami pun mulai menentukan subjek mana yang harus kami butuhkan informasinya sehingga kami mendapatkan beberapa “informan” yang menurut kami pangkal yang dapat memberikan kepada kami petuntuk lebih lanjut tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang kita perlukan, yaitu mereka yang pedagang pertama yang berjualan nanas di pinggiran jalan Kecamatan Jalan Cagak.
Kecamatan Jalan Cagak merupakan kecamatan yang memproduksi buah nanas terbanyak karena terhampar luas perkebunan milik warga di kecamatan tersebut. “Pusat pembudidayaan nanas terbesar berada di Kecamatan Jalancagak, seluas 2.592 hektar, dengan lahan yang berpotensi hanya 100 hektar. Selain itu, ada Kecamatan Cisalak yang luas kebun nanasnya 137 hektar dan Cijambe seluas 38 hektar”.
Setiap tahun Subang menghasilkan tidak kurang 59.000 ton nanas. Sentra produksi buah yang kulitnya bersusun sisik ini di Kecamatan Jalancagak. Tetapi, tidak semua nanas yang dihasilkan adalah nanas “Si Madu” yang kondang ke seluruh negeri. Nanas jenis ini terkenal karena berair banyak dan mempunyai rasa manis tanpa rasa getir dan tidak menyebabkan gatal di kerongkongan.
Buah yang memiliki berat antara 3-3,5 kilogram ini menjadi istimewa karena tidak mudah ditemukan. Sama seperti satu atau dua kelapa muda kopyor yang ditemukan dalam rimbunan buah kelapa, sebutir atau dua butir nanas madu mungkin bisa ditemukan dalam satu kuintal nanas. Itu sebabnya tidak mudah bagi yang ingin mencicipi buah itu menemukannya dalam deretan kios penjual nanas yang bertebaran di sepanjang jalan di Kecamatan Jalancagak.
Sedangkan dalam pemasarannya seorang produsen tidak dapat melakukannya secara langsung jika jarak antara produsen dengan konsumen berjauhan, oleh karena itu menurut  Abdulloh, “diperlukan adanya usaha-usaha untuk menyampaikannya kepada konsumen. Usaha-usaha untuk menyampaikan barang-barang dari produsen ke konsumen tersebut. Oleh karena itu disini terdapat peranan para pedagang yang dapat berhubungan langsung baik itu dengan produsen maupun konsumen, melihat dengan potensi daerah yang dihasilkan melimpah ruah mengenai buah nanas hal itulah yang kemudian membuat masyarakat Kecamatan Jalan Cagak khususnya yang mempunyai rumah di pinggir jalan raya lebih memilih menjadi pedagang nanas, karena selain letaknya yang sangat strategis juga keuntungan yang didapatkan dari hasil penjualan nanas cukup besar dalam menyokong ekonomi keluarga.
Menurut Pak Edi “Tradisi ketika orang tua sudah berhenti dilanjutkan oleh anaknya” atau dalam ilmu sosiologi dikenal sebagai mobilitas generasi yang menurut pemahaman kami merupakan suatu kegiatan atau status sosial yang tidak ada perubahan dalam bidang profesi dari orang tua yang diwariskan kepada anaknya yang memiliki pekerjaan yang sama. Seperti orang tua Pak Edi kepadanya. Namun berbeda dengan Ibu Maryati anaknya menjadi guru dan ada pula yang menjadi pengusaha di Jakarta serta anaknya yang bungsu masih duduk di bangku kuliah Akademi Keperawatan Subang dan Pak Yanto yang anaknya masih kuliah di Universitas Pasundan.
  1. Kehidupan Pedagang nanas di Jalan Cagak.
Bagaimana mungkin seorang pedagang nanas yang dagangannya berukuran 5m x 3m bisa menyekolahkan anaknya sampai ke tingkat Perguruan Tinggi, namun itu memang benar-benar terjadi faktanya seorang ibu rumah tangga yang profesi kesehariannya sebagai pedagang nanas bisa menyekolahkan ke-lima anaknya sampai bangku kuliah yaitu, Ibu Maryati selain Ibu Mayati juga ada bapak Yanto yang anaknya kini Kuliah di Perguruan Tinggi Swasta yang ada di Kota Bandung, untuk mendapatkan informasi ini kami menggunakan wawancara dengan metode penggunaan data pengalaman individu dalam ilmu sejarah dikenal sebagai “human document” yang dijelaskan Koentjaraningrat bahwa:
“Guna dari data semacam itu dalam hal melakukan penelitian terhadap suatu masyarakat yang bersangkutan adalah bahwa si peneliti itu dapat memperoleh suatu pandangan dari dalam, melalui reaksi, tanggapan, interpretasi, dan penglihatan para warga terhadap dan mengenai masyarakat yang bersangkutan”. (1977: 197)
Disamping mempelajari data pengalaman individu sebagai bagian dari realitas gejala sosial, kami juga mempelajari hal itu untuk memperdalam pengertiannya mengenai detail yang tak akan dapat dicapai dengan metode lain. Adapun mengenai tujuan ini kami menggunakan ilmu bantu diantaranya sosiologi dan ekonomi untuk mengetahui data pengalaman individu yang penting bagi kami, untuk memperoleh pandangan dari dalam mengenai gejala-gejala sosial dalam suatu masyarakat melalui pandangan dari masyarakat yang bersangkutan.
Berdasarkan dari hasil pengamatan dilapangan nampaknya para pedagang nanas ini mencukupi kehidupan keluarga bahkan lebih dari itu, sebagaimana diakui oleh Pak Edi (30 tahun) ia bias membeli kendaraan roda empat dan kendaraan sepeda motor selama lima tahun berjualan nanas, sedangkan ibu Maryati (60 Tahun) masih bertahan dari tahun 70-an sampai sekarang bisa menyekolahkan kelima anaknya sampai bangku kuliah padahal beliau suaminya sudah meninggal dunia. Begitu juga Pak Yanto (50 tahun) yang memiliki anak yang sedang menempuh pendidikan di PTS yang ada di Bandung, dari ketiga informan ini yang dijadikan sampling menyatakan dengan berjualan nanas “cukup lumayan dalam menyokong ekonomi keluarga”.
  1. Nanas mengangkat daerah Subang dan “Indonesia”
Patung nanas “Itu terjadi tahun 1990 yang membuat nama Subang naik daun, yang kemudian diapresiasikan pemerintah melalui patung nanas,” kata Dadang, pedagang nanas di Jalancagak. Selain itu nanas Subang juga mampu mengangkat nama Indonesia seperti yang diberitakan di Kompas bahwa:
“Kenyataannya nanas Subang ternyata mampu mengangkat nama Indonesia, sehingga ada sebuah perusahaan yang mengemas dalam makanan kalengan atau kemudian dibuat jus oleh pengusaha lainnya di Bandung. Di samping itu ada pula nanas yang dibuat dodol. Pokoknya, nanas dapat diolah dengan berbagai macam cara sehingga memberi kontribusi bagi masyarakat dan pemerintah daerah”.
Karena selain padi, lanjut Wawan bahwa: “komoditas unggulan pertanian lainnya ialah buah-buahan. Nanas, pisang, dan rambutan merupakan buah andalan kabupaten ini yang dikenal hingga ke luar daerah, Nilai kegiatan ekonomi Subang terbanyak disumbangkan oleh sektor pertanian, yakni Rp 3,44 triliun atau sebesar 38,28 persen. Berikutnya adalah sektor perdagangan, hotel, dan restoran dengan Rp 1,74 triliun atau 19,44 persen ekonomi Subang, disusul industri pengolahan yang menyumbangkan Rp 1,12 triliun atau 12,48 persen nilai kegiatan ekonomi kabupaten ini”.
Dengan menurut kami itu merupakan kontribusi yang cukup besar pada perekonomian daerah, sektor pertanian, termasuk di dalamnya agrobisnis, memang menjadi andalan pembangunan di Kabupaten Subang. Untuk mengembangkan sektor tersebut, pemerintah kabupaten masih membuka lebar kesempatan bagi investor yang ingin menanamkan modalnya di Subang. Bidang agrobisnis yang terbuka antara lain pengembangan nanas, rambutan, dan manggis dalam rangka pembangunan ekonomi daerah maupun pusat. Dan sudah sangat jelas di ungkapkan di atas bahwa penghasilan dari berbagai usaha nya sangat mencukupi sekali untuk menghidupi keluarganya.

  1. Keluarga berencana (KB) di jalancagak
Sebuah sepanduk besar terpang-pang di depan puskesmas jalan cagak, kabupaten subang, jawabarat, “putus benang sudah biasa tapi putus kontrasepsi berbahaya”, slogan meminjam komentar mandra,dalam kampanye bersekolah,yang gencar di televis itu, disertai sepanduk lain yang tak kalah besar, Tulisanya “tunda kehamilan karna kondisi ekonomi belum stabil”.
Krisis moneter yang berkembang menjadi krisis ekonomi berkepanjangan, memang amat terasa dampak nya dalam urusan keluarga berencana ujar pak aditio sugi harto. Alat kontrasepsi yang selama ini dapat di peroleh dengan murah: suntik, pil, susuk tiba-tiba melambung harganya. Di tengah mahalnya harga bahan pokok sangat mungkin terjadi masyarakat lebih memilih memenuhi kebutuhan perut nya di banding untuk membeli alat kontrasepsi, maka bila ini tidak cepat-cepat di antisipasi maka yang akan muncul adalah peningkatan jumlah kelahiran di jalan cagak ini. Dan Ini akan terus menjadikan kemungkinan negative lainya: seperti halnya sang anak akan mengalami kekurangan gijzi dikarnakan sang orangtua takmampu membeli makanan-makanan yang menunjang sang anak bertumbuh dengan optimal dan jadilah sang anak menjadi penerus yang tidak siap membangun bangsa ujar ibu neneng bidan di puskesmas jalan cagak.
Dilapangan, masyarakat jalan cagak terus di dorong melakukan berbagai terobosan untuk menyelamat kan akseptor Metode yang di kembangkan peserta “KB” di jalan cagak adapun warga di jalan cagak ini mempunyai satu kelompok, yang memiliki catatan kapan akseptor harus suntik ulang atau beli pil. Dengan demikian masing-masing bisa mencek dana yang terkumpul maupun akseptor yang tidak datang pada saat nya.hingga dua bulan berjalan dan danapun sudah terkumpul beberapa ratus ribu rupiah, dana ini sudah di gunakan membantu empat peserta KB suntik dan tiga peserta KB pil, dalam hal ini peran sang bidan memang sangat penting dan sangat luarbiasa pengaruh nya pada masyarakat, di tengah harga-harga yang membubung mereka rela menyisihkan sebagian uang yang sebenarnya menjadi hak nya mereka untuk membantu akseptor yang tidak mampu.




BAB III
Penutup
  1. Kesimpulan
Seluruh pekerja yang ada di Kecamatan Jalancagak ini lebih dari separuhnya adalah terserap oleh sektor pertanian. Kemudian keduanya diikuti oleh sektor jasa, selebihnya bekerja di sektor agrikultur. Kondisi tersebut telah mengalami pergeseran mengikuti perkembangan pembangunan dimana sektor agrikultur mulai ditinggalkan sesuai dengan perubahan fungsi tanah dan berkembang menjadi perumahan. Sektor jasa perdagangan berkembang dengan mengikuti pertumbuhan fungsi lahan pemukiman menjadi tempat usaha yang strategis, hal ini didukung oleh regulasi kebijakan di bidang perdagangan dimana pemerintah menyediakan kemudahan perijinan usaha. Maka dengan kesimpulan di atas, masyarakat jalan cagak sangat menyandarkan seluruh kebutuhan hidup nya dari bertani dan berdagang.
Bidan ketua kelompok di daerah sekitar subang yaitu jalancagak sangat penting dan berpengaruh sekali di dalam mengatasi kelahiran anak yang akan mengorbankan kesehatan sang anak di masa pertumbuhan nya, dikarnakan keadaan ekonomi di jalan cagak masih hanya cukup untuk kepentingan yang lebih di pentingkan.

banjir menjadi hiasan yang merugikan


A.    LATAR BELAKANG MASALAH
Keindahan kota sedikit terasa saat musim kemarau, lalu lintas terlihat sedikit lancar. Berbeda pada saat musim hujan, banyak hal yang menjadi masalah keterlambatan, macet, dan yang paling membosankan dipandangan mata yaitu BANJIR.  Beberapa kota besar terdapat daerah yang menjadi langganan banjir, buka hanya berdampak pada kerusakan harta benda akan tetapi berdampak pada proses perekonomian, keterlambatan dalam mengerjakan sesuatu merupakan salah satu kendala dalam keberlangsungan proses keberhasilan dalam segala sesuatu, waktu satu menit begitu menentukan dan akan terasaberharga saat kita dibandara. Waktu satu jam akan terasa berharga saat kita akan menolong orang yang sudah kritis dan lain sebagainya.
Banjir merupakan wacana lama yang mungkin bias dikatakan sudah kadaluarsa, setiap dewan perwakilan Masyarakat mulai tingkat bawah sampai tingkat atas selalu menjadikan penaggulangan banjir sebagai program kerja yang paling diproritaskan, bahkan salah satu bahkan salah satu pasangan calon Gubernur menjadikan penaggulangan banjir sebagai agenda besarnya.
Banjir tiap tahun atau tiap datang penghujan selalu dirasakan oleh masyarakat bandung dan pengguna jalan raya, hal tersebut sangat mengganggu, ada seribu macam keluhan, baik dari karyawan, mahasiswa dan pengendara lainnya., 



B.     PERMASALAHAN













C.    ANALISIS
Melihat masalah diatas, betapa besarnya pengaruh masalah  banjir yang terjadi dalam satu daerah, hususnya daerah besar seperti bandung ini. Bukan hanya berdampak pada kerugian ekonomi saat datang banjir besar seperti yang sering terjadi di baleenda, akan tetapi bisa pada keselamatan nyawa. Kenyamanan berkendara sangatlah penting karna berpengaruh pada keselamatan pengendara itu sendiri.  
Dalam hal ini kita tidak boleh sepenuhnya menyalahkan masyarakat yang kurang menjaga kebersihan gorong-gorong dan drainase lainnya, akan tetapi keprihatinan pemerinta perlu dipertanyakan, kontribusi pemerintah wilayah bandung itu sendiri perlu dkritisi kinerjanya.
D.    SOLUSI
Satu ungkapan “Mencegah itu lebih baik dari pada mengobati “  selanjutnya muncul sebuah pertanyaan Bagaimana kalau sudah terkena?. Maka mengenai solusi atau jalan keluarnaya dari permasalahan tersebut, kita harus tahu factor-faktor penyebab masalah itu sendiri. Setelah mengatahui kita merencanakan, melaksanakan  penyelesaian.
Banjir terjadi biasanya saat musim hujan, hal ini bias disebabkan beberapa hal, diantaranya adalah
1.      Tidak adanya system pengaliran air
2.      Hujan yang lebat sehingga system pengaliran yang tidak bias menampung
3.      Kondisi drainase atau system pengaliran air yang tidak bagus (dangkal, tersumbar).
Tanggung jawab beberapa faktor tersebut di atas lebih untuk tanggung jawab pemerintah, baik pemerintah daerah sampai pada wilayah dan pemerintah lainnya. 
Kasus banjir yang sering terjadi digede bage yang mengganggu pengguna jalan pengendara merupakan hal yang sudah lama terjadi, akan tetapi masi belum ada penanggulangan yang serius dari yang bertanggung jawab. Seharusnya hal ini segera diatasi, karna mengingat jalan gde bage merupakan jalan raya yang menghubungkan keberbagai arah, baik dengan cara membuat system aliran yang bagus atau meninggikan jalan raya itu sendiri dari permukaan tanah sehingga air tidak tergenang.