Pendahuluan.
Masyarakat
selalu bergerak dan berubah. Tiap anggota masyarakat akan selalu mengalami
perubahan, pergerakan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan
peran. Dalam kehidupan manusia pada dasarnya tidak seorang pun ingin melakukan
mobilitas secara menurun, manusia memiliki kecenderungan untuk menginginkan
mobilitas sosial ke atas. Secara nyata, kehidupan dimasyarakat tidaklah sama.
Ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang mempunyai kedudukan tinggi, ada pula
yang memiliki kedudukan rendah. Perbedaan tersebut mendorong manusia untuk
meningkatkan taraf hidupnya agar dapat naik ke strata yang lebih tinggi,
terutama pada mereka yang berada pada strata bawah. Dengan akalnya manusia
berusaha agar harapan dan keinginannya untuk meningkatakan status tercapai
sehingga ia dapat hidup lebih baik.
Dalam
dunia modern, banyak orang berupaya meningkatakan mobilitas. Mereka yakin bahwa
hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih sejahtera dan memungkinkan mereka
melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Seperti para
pengamen yang ada di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, mereka memliki
keinginan untuk merubah mobilitas mereka menjadi lebih baik. Dengan perdi ke
Kota Besar, para pengamen ini berharap bisa mendapatkan kehidupan yang lebih
baik dari pada kehidupan seperti orang tuanya di tempat mereka berasal.
Mobilitas Sosial
Pengamen.
Perubahan
zaman yang sangat pesat menyebabakan terjadinya Mobilitas sosial dan mobilitas
penduduk. Banyak individu atau masyarakat yang melakukan transmigrasi,
urbanisasi, dan imigrasi dari suatu wilayah tertentu ke wilayah yang lain.
Seperti para pengamen di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, mereka datang ke
kota Bandung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan
pengamatan, Pergerakan ini menunjukan mobilitas geografis non permanen(mobilitas
penduduk sirkuler), meskipun mereka sudah sangat lama tinggal di Kota bandung secara
teoritis mereka tidak bisa di sebut sebagai penduduk Kota Bandung atau mereka
tidak termasuk dalam mobilitas geografis
permanen(migrasi) karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Surat
keterangan yang lain yang menunjukan mereka berdomisili di Kota Bandung, selain
itu mereka juga sesekali pulang ke daerah asalnya bila sudah mendapatkan uang
yang cukup dan akan kembali lagi ke Kota Bandung bila mereka sudah tidak punya
uang. Dalam pergerakan mobilitas geografis non permanen(mobilitas sirkuler) ini
mereka termasuk dalam ketegori Mondok atau Nginap.
Saya
mewawancarai beberapa pengamen yang ada di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung,
salah satunya Riki (pengamen), usia 13 tahun, anak yang berasal dari cimahi ini
pergi ke Kota Bandung untuk mencari uang. Karena dia putus sekolah, dan tidak
ada biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya pun hanya seorang pencari
barang bekas (pemulung), jadi riki memutuskan pergi ke Kota Bandung sebagai
pengamen karena tidak ada lapangan pekerjaan di daerah asal ia tinggal.
Meskipun pada saat duduk di bangku sekolah terjadi mobiltas sosial vertikal ke
atas dikarenakan tidak tamat sekolah dan karean orang tua riki sekarang sebagai
pencari barang bekas (pemulung) maka yang terjadi adalah bentuk mobilitas sosial
horizontal.
Faktor
pendorong yang menyebabkan riki pergi ke Kota Bandung untuk melakukan gerak
perubahan(mobilitas) yaitu, kebutuhan ekonomi yang tidak terpenuhi tetapi masih
dalam batas toleransi dimana orang tua riki masih mampu untuk memenuhi
kebutuhan sehari-hari meskipun sangat pas-pasan. Bila ditinjau dengan hubungan
kebutuhan dan mobilitas penduduk, hal ini
termasuk dalam kebutuhan aspirasi tidak tepenuhi tetapi masih dalam
batas toleransi, jadi tidak sepenuhnya kebutuhannya itu tidak terpenuhi. Faktor
lain yang mendorong terjadinya mobilitas yaitu daya tarik daerah tujuan dimana
kebutuhan dapat terpenuhi. Meskipun riki memiliki kesempatan untuk bergerak ke taraf
hidup yang lebih baik, ada faktor penghambat dalam mobilitas dikarenakan
persaingan di era Globalisasi yang sangat ketat, yaitu : 1)faktor kemiskinan
yang membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai status
sosial tertentu, seperti halnya riki yang putus sekolah dikarenakan tidak
memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya. 2)Faktor Diskriminasi Kelas dalam
Sistem kelas Terbuka, hal ini terbukti dengan pendidikan yang hanya bisa
dinikmati oleh orang yang memiliki biaya untuk bersekolah, orang yang tidak
mampu membiayai tidak bisa mengenyam pendidikan. 3) faktor lapangan pekerjaan
yang semakin sempit,dimana Spesifikasi jenis pekerjaan yang menuntut keahlian
khusus, harus perpendidikan, ataupun harus memliki gelar sarjana sehingga kesempatan
kerja bagi yang putus sekolah sangat kecil sekali. Seperti halnya para pengamen
yang lain, faktor pendorong mereka untuk melakukan mobilitas adalah karna
faktor ekonomi, dan faktor daya tarik dari daerah tujuan.
Kesimpulan.
Kondisi persaingan
kerja yang sangat ketat dan karena terhimpitnya beban ekonomi membuat para
pengamen di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung datang ke kota Bandung untuk
mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan pengamatan, Pergerakan ini
menunjukan mobilitas geografis non permanen(mobilitas penduduk sirkuler).
Mobilitas sosial yang terjadi adalah bentuk mobilitas sosial horizontal karena
dari hasil penelitan dan wawancara terhadap beberapa pengamen, salah satunya
adalah Riki (pengamen) di lihat dari latar belakang keluarganya, yang terjadi
saat ini adalah mobilitas sosial horizontal karena ditinjau dari pekerjaan
orang tuanya sebagai pencari barang bekas(pemulung) dan kini riki sudah tidak
bersekolah serta menjadi pengamen. Faktor yang mendorong para pengamen ini
melakukan mobilitas yaitu faktor ekonomi,dan faktor daya tarik dari daerah
tujuan, karena mereka menganggap bahwa di daerah lain kesempatan kerja lebih
besar, namun pada akhirnya mereka bekrja sebagai pengamen karena ada beberapa
faktor penghambat untuk mereka melakukan mobilitas sosial ke atas yaitu, faktor
kemiskinan, faktor diskriminasi kelas dalam sistem kelas terbuka, faktor
pendidikn dan faktor lapangan pekerjaan yang lebih spesifikasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar