Selasa, 22 Mei 2012

MOBILITAS SOSIAL PENGAMEN (study kasus di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, jl. Asia Afrika Kota Bandung)


Pendahuluan.            
Masyarakat selalu bergerak dan berubah. Tiap anggota masyarakat akan selalu mengalami perubahan, pergerakan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran. Dalam kehidupan manusia pada dasarnya tidak seorang pun ingin melakukan mobilitas secara menurun, manusia memiliki kecenderungan untuk menginginkan mobilitas sosial ke atas. Secara nyata, kehidupan dimasyarakat tidaklah sama. Ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang mempunyai kedudukan tinggi, ada pula yang memiliki kedudukan rendah. Perbedaan tersebut mendorong manusia untuk meningkatkan taraf hidupnya agar dapat naik ke strata yang lebih tinggi, terutama pada mereka yang berada pada strata bawah. Dengan akalnya manusia berusaha agar harapan dan keinginannya untuk meningkatakan status tercapai sehingga ia dapat hidup lebih baik.
Dalam dunia modern, banyak orang berupaya meningkatakan mobilitas. Mereka yakin bahwa hal tersebut akan membuat orang menjadi lebih sejahtera dan memungkinkan mereka melakukan jenis pekerjaan yang paling cocok bagi diri mereka. Seperti para pengamen yang ada di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, mereka memliki keinginan untuk merubah mobilitas mereka menjadi lebih baik. Dengan perdi ke Kota Besar, para pengamen ini berharap bisa mendapatkan kehidupan yang lebih baik dari pada kehidupan seperti orang tuanya di tempat mereka berasal.
Mobilitas Sosial Pengamen.
Perubahan zaman yang sangat pesat menyebabakan terjadinya Mobilitas sosial dan mobilitas penduduk. Banyak individu atau masyarakat yang melakukan transmigrasi, urbanisasi, dan imigrasi dari suatu wilayah tertentu ke wilayah yang lain. Seperti para pengamen di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, mereka datang ke kota Bandung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan pengamatan, Pergerakan ini menunjukan mobilitas geografis non permanen(mobilitas penduduk sirkuler), meskipun mereka sudah sangat lama tinggal di Kota bandung secara teoritis mereka tidak bisa di sebut sebagai penduduk Kota Bandung atau mereka tidak termasuk dalam  mobilitas geografis permanen(migrasi) karena tidak memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) maupun Surat keterangan yang lain yang menunjukan mereka berdomisili di Kota Bandung, selain itu mereka juga sesekali pulang ke daerah asalnya bila sudah mendapatkan uang yang cukup dan akan kembali lagi ke Kota Bandung bila mereka sudah tidak punya uang. Dalam pergerakan mobilitas geografis non permanen(mobilitas sirkuler) ini mereka termasuk dalam ketegori Mondok atau Nginap.
Saya mewawancarai beberapa pengamen yang ada di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung, salah satunya Riki (pengamen), usia 13 tahun, anak yang berasal dari cimahi ini pergi ke Kota Bandung untuk mencari uang. Karena dia putus sekolah, dan tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolahnya. Orang tuanya pun hanya seorang pencari barang bekas (pemulung), jadi riki memutuskan pergi ke Kota Bandung sebagai pengamen karena tidak ada lapangan pekerjaan di daerah asal ia tinggal. Meskipun pada saat duduk di bangku sekolah terjadi mobiltas sosial vertikal ke atas dikarenakan tidak tamat sekolah dan karean orang tua riki sekarang sebagai pencari barang bekas (pemulung) maka yang terjadi adalah bentuk mobilitas sosial horizontal.
Faktor pendorong yang menyebabkan riki pergi ke Kota Bandung untuk melakukan gerak perubahan(mobilitas) yaitu, kebutuhan ekonomi yang tidak terpenuhi tetapi masih dalam batas toleransi dimana orang tua riki masih mampu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari meskipun sangat pas-pasan. Bila ditinjau dengan hubungan kebutuhan dan mobilitas penduduk, hal ini  termasuk dalam kebutuhan aspirasi tidak tepenuhi tetapi masih dalam batas toleransi, jadi tidak sepenuhnya kebutuhannya itu tidak terpenuhi. Faktor lain yang mendorong terjadinya mobilitas yaitu daya tarik daerah tujuan dimana kebutuhan dapat terpenuhi. Meskipun riki memiliki kesempatan untuk bergerak ke taraf hidup yang lebih baik, ada faktor penghambat dalam mobilitas dikarenakan persaingan di era Globalisasi yang sangat ketat, yaitu : 1)faktor kemiskinan yang membatasi kesempatan bagi seseorang untuk berkembang dan mencapai status sosial tertentu, seperti halnya riki yang putus sekolah dikarenakan tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolahnya. 2)Faktor Diskriminasi Kelas dalam Sistem kelas Terbuka, hal ini terbukti dengan pendidikan yang hanya bisa dinikmati oleh orang yang memiliki biaya untuk bersekolah, orang yang tidak mampu membiayai tidak bisa mengenyam pendidikan. 3) faktor lapangan pekerjaan yang semakin sempit,dimana Spesifikasi jenis pekerjaan yang menuntut keahlian khusus, harus perpendidikan, ataupun harus memliki gelar sarjana sehingga kesempatan kerja bagi yang putus sekolah sangat kecil sekali. Seperti halnya para pengamen yang lain, faktor pendorong mereka untuk melakukan mobilitas adalah karna faktor ekonomi, dan faktor daya tarik dari daerah tujuan.
Kesimpulan.
            Kondisi persaingan kerja yang sangat ketat dan karena terhimpitnya beban ekonomi membuat para pengamen di Taman Alun-alun Masjid Raya Bandung datang ke kota Bandung untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Berdasarkan pengamatan, Pergerakan ini menunjukan mobilitas geografis non permanen(mobilitas penduduk sirkuler). Mobilitas sosial yang terjadi adalah bentuk mobilitas sosial horizontal karena dari hasil penelitan dan wawancara terhadap beberapa pengamen, salah satunya adalah Riki (pengamen) di lihat dari latar belakang keluarganya, yang terjadi saat ini adalah mobilitas sosial horizontal karena ditinjau dari pekerjaan orang tuanya sebagai pencari barang bekas(pemulung) dan kini riki sudah tidak bersekolah serta menjadi pengamen. Faktor yang mendorong para pengamen ini melakukan mobilitas yaitu faktor ekonomi,dan faktor daya tarik dari daerah tujuan, karena mereka menganggap bahwa di daerah lain kesempatan kerja lebih besar, namun pada akhirnya mereka bekrja sebagai pengamen karena ada beberapa faktor penghambat untuk mereka melakukan mobilitas sosial ke atas yaitu, faktor kemiskinan, faktor diskriminasi kelas dalam sistem kelas terbuka, faktor pendidikn dan faktor lapangan pekerjaan yang lebih spesifikasi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar