A. MORTALITAS
Gambaran perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat
dilihat dari kejadian kematian dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping
itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian
keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka
kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survei dan
penelitian.
1. Angka Kematian
Bayi (AKB)
Data kematian yang terdapat pada suatu
komunitas dapat diperoleh melalui survei, karena sebagian besar kematian
terjadi di rumah, sedangkan data kematian pada fasilitas pelayanan kesehatan
hanya memperlihatkan kasus rujukan. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia
berasal dari berbagai sumber yaitu Sensus Penduduk, Surkesnas/ Susenas dan
Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI).
Ada banyak faktor yang mempengaruhi
tingkat AKB tetapi tidak mudah untuk menemukan faktor yang paling dominan.
Tersedianya berbagai fasilitas atau faktor aksesibilitas dan pelayanan
kesehatan dari tenaga medis yang terampil, serta kesediaan masyarakat untuk
merubah kehidupan tradisional ke norma kehidupan modern dalam bidang kesehatan
merupakan faktor yang sangat berpengaruh terhadap tingkat AKB.
Menurut BPS Indikator Kesejahteraan
Anak 2000, AKB di Propinsi Kalimantan Tengah pada tahun tersebut sebesar
36/ 1000 KH dan meningkat pada tahun 2002-2003 (SDKI) menjadi 40/ 1000
KH. Berdasarkan kompilasi profil tahun 2005, jumlah kelahiran dilaporkan sebesar
37.853, bayi lahir mati 216 dan kematian bayi sebesar 179 (Tabel IIS 5).
2. Angka Kematian
Ibu Maternal (AKI)
Angka Kematian Ibu Maternal diperoleh
dari berbagai survei yang dilakukan secara khusus. Dengan dilaksanakannya
Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) dan Survei Demografi dan Kesehatan
Indonesia (SDKI) maka cakupan wilayah penelitian AKI menjadi lebih luas
dibanding wilayah sebelumnya.
Untuk melihat kecenderungan AKI di
Indonesia secara konsisten maka digunakan data hasil SKRT, AKI menurun dari 425
pada tahun 1992 menjadi 373 pada tahun 1995. Pada tahun 2002-2003 AKI menjadi
307 yang diperoleh dari hasil SDKI. Walaupun angka ini terus menurun namun bila
dibandingkan dengan target nasional yang akan dicapai pada tahun 2010 yaitu 125
per 100.000 kelahiran hidup, maka apabila penurunannya seperti tahun-tahun
sebelumnya, dipekirakan target tersebut akan sulit tercapai. Propinsi
Kalimantan Tengah masih mengikuti angka nasional yaitu 307 per 100.000
kelahiran hidup. Berdasarkan kompilasi data profil pada tahun 2005 ada 44
kematian ibu maternal dan ini meningkat dari tahun 2004 dengan kematian ibu
sebanyak 16 orang. Data kematian ibu maternal ini dapat dilihat pada tabel IIS
6.
3. Umur Harapan
Hidup Waktu Lahir (UHH)
Penurunan Angka Kematian Bayi sangat
berpengaruh pada kenaikan umur harapan hidup (UHH) waktu lahir. Angka Kematian
Bayi sangat peka terhadap perubahan kesehatan dan kesejahteraan masyarakat,
sehingga perbaikan derajat kesehatan tercermin pada penurunan AKB dan kenaikan
umur harapan hidup (UHH) pada waktu lahir. Meningkatnya umur harapan hidup
secara tidak langsung juga memberi gambaran tentang adanya peningkatan kualitas
hidup dan derajat kesehatan masyarakat.
Umur harapan hidup waktu lahir penduduk
Kalimantan Tengah dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan yang
bermakna. Umur harapan hidup Kalimantan Tengah sedikit lebih tinggi dibanding
dengan angka nasional yaitu 69,51 dan 71,98 untuk Kalimantan Tengah (BPS,
Indikator Kesra Kalimantan Tengah 2002).
B. MORBIDITAS
Angka kesakitan penduduk didapat dari
data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang dapat diperoleh
dengan melalui studi morbiditas dan
hasil pengumpulan data baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota maupun dari data sarana pelayanan kesehatan
(facility based data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan.
1. Penyakit
Menular
Penyakit
menular yang disajikan dalam profil ini adalah Penyakit Malaria, TB Paru, HIV/
AIDS , Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) dan Kusta.
1.a. Penyakit Malaria
Penyakit malaria masih menjadi masalah
kesehatan masyarakat di Indonesia, perkembagan penyakit malaria dipantau
melalui annual parasite incidence (API), dari hasil SPM dari Kabupaten/ Kota
penderita Malaria yang diobati sebesar 91% dari target yang seharusnya 100%
(Tabel SPM 31).
1.b. Penyakit TB Paru
Menurut
hasil Surkesnas 2001, TB Paru menempati urutan ke 3 penyebab kematian umum
(9,4%), selain menyerang paru, Tuberculosis dapat menyerang organ lain (extra
pulmonary). Dari data SPM yang berhasil dikumpulkan menunjukkan kasus BTA +
sebanyak 1.545 orang, diobati sebanyak 1.942 orang dan sembuh sebanyak 1.301
orang (Tabel SPM 13).
1.c. Penyakit HIV/ AIDS
Peningkatan
penyakit HIV/ AIDS terus menunjukkan peningkatan, meskipun berbagai upaya
pencegahan dan penanggulangan terus dilakukan. Semakin tingginya mobilitas
penduduk antar wilayah, menyebarnya sentra-sentra pembangunan ekonomi di
Indonesia, meningkatnya perilaku seksual yang tidak aman dan meningkatnya
penyalahgunaan NAPZA melalui suntikan, secara simultan telah memperbesar
tingkat risiko penyebaran HIV/ AIDS.
Saat ini
Indonesia telah digolongkan sebagai negara dengan tingkat epidemi yang
terkonsentrasi, yaitu adanya prevalensi lebih dari 5% pada sub populasi
tertentu, misal pada kelompok pekerja seksual komersial dan penyalahgunaan
NAPZA. Tingat epidemi ini menunjukkan tingkat perilaku berisiko yang cukup
aktif menularkan di dalam suatu sub populasi tertentu.
Jumlah
penderita HI/ AIDS dapat digambarkan sebagai fenomena gunung es, yaitu jumlah
penderita dilaporkan jauh lebih kecil dari pada jumlah sebenarnya. Hal ini
berarti bahwa jumlah penderita HIV/ AIDS di Indonesia yang sebenarnya belum
diketahui secara pasti. Diperkirakan jumlah orang dengan HIV di Indonesia pada
akhir tahun 2003 mencapai 90.000 – 130.000 orang. Sementara Profil Kesehatan
Indonesia Tahun 2004 (Depkes RI, 2006) melaporkan jumlah kumulatif kasus HIV/
AIDS sebanyak 4.605 kasus. Sesuai dengan Sensus tahun 2000 kumulatif kasus AIDS
per 100.000 penduduk secara nasional sebesar 0,68. Cara penularan AIDS yang
terbesar adalah melalui hubungan heteroseksual yaitu 50,62%, melalui suntikan
yang ada kaiannya dengan NAPZA sebesar 26,26%
serta melalui hubungan homoseksual sebesar 9,34%.
Upaya
yang dilakukan dalam rangka pemberantasan penyakit HIV/ AIDS disamping
ditujukan pada penanganan penderita yang ditemukan diarahkan pada upaya
pemantauan dan pengobatan penderita penyakit menular seksual (PMS).
Dari
hasil Sero Survei HIV/AIDS yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Propinsi terlihat
adanya peningkatan kasus dari 2002-2004 namun
sedikit menurun pada tahun 2005.
Tabel
1
Hasil
Sero Survei HIV/ AIDS 2002-2005
Propinsi
Kalimantan Tengah
|
No
|
Kab/ Kota
|
2002
|
2003
|
2004
|
2005
|
||||
|
Sampel
|
(+)
|
Sampel
|
(+)
|
Sampel
|
(+)
|
Sampel
|
(+)
|
||
|
1
|
Kotawaringin Barat
|
838
|
5
|
392
|
6
|
412
|
4
|
415
|
7
|
|
2
|
Sukamara
|
|
|
55
|
0
|
69
|
1
|
98
|
4
|
|
3
|
Lamandau
|
|
|
45
|
2
|
56
|
0
|
40
|
1
|
|
4
|
Kotawaringin
Timur
|
209
|
1
|
194
|
2
|
193
|
6
|
201
|
9
|
|
5
|
Palangka Raya
|
101
|
0
|
101
|
1
|
214
|
12
|
160
|
1
|
|
6
|
Seruyan
|
|
|
|
|
25
|
0
|
|
|
|
7
|
Barito
Selatan
|
|
|
|
|
11
|
0
|
|
|
|
8
|
Barito Utara
|
73
|
0
|
64
|
0
|
90
|
1
|
82
|
1
|
|
9
|
Katingan
|
|
|
102
|
2
|
108
|
3
|
46
|
0
|
|
TOTAL
|
1.221
|
6
|
953
|
13
|
1.178
|
27
|
1.042
|
23
|
|
Sumber : Laporan Sero Survei HIV/ AIDS Subdin
P2 2005
1.d. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
ISPA masih merupakan penyakit utama
penyebab kematian bayi dan balita di Indonesia. Dari beberapa hasil SKRT
diketahui bahwa 80 sampai 90% dari seluruh kasus kematian ISPA disebabkan
Pneumonia. Pneumonia merupakan penyebab kematian pada balita dengan peringkat
pertama dari hasil Surkesnas 2001. ISPA sebagai penyebab utama kematian pada
bayi dan balita diduga karena pneumonia merupakan penyakit akut dan kualitas
penatalaksanaannya belum memadai.
Upaya dalam rangka pemberantasan
penyakit infeksi saluran pernafasan akut lebih difokuskan pada upaya penemuan
dini dan tatalaksana kasus yang cepat dan tepat terhadap penderita pneumonia
balita yang ditemukan. Jumlah balita penderita pneumonia di Kalimantan Tengah
dilaporkan sebanyak 4.969 kasus dan semuanya sudah tertangani (Tabel SPM 13).
1.e. Penyakit Kusta
Dalam kurun waktu sepuluh tahun
(1991-2001), angka prevalensi penyakit kusta secara nasional telah mengalami
penurunan dari 4,5 per 10.000 penduduk pada tahun 1991. Lalu turun menjadi 0,85
per 10.000 penduduk pada tahun 2001. Pada tahun 2002 prevalensi sedikit
meningkat menjadi 0,95, pada tahun 2003 turun menjadi 0,8 dan tahun 2004
meningkat lagi menjadi 0,93 per 10.000 penduduk (Profil Kesehatan Indonesia
2004, Depkes).
Meskipun Indonesia telah mencapai eleminasi
kusta pada pertengahan 2000, sampai saat ini penyakit kusta masih menjadi salah
satu masalah kesehatan masyarakat. Hal ini terbukti dari masih tingginya jumlah
penderita kusta di Indonesia
dan merupakan negara dengan urutan ketiga penderita terbanyak di dunia.
Penyakit kusta dapat mengakibatkan kecacatan pada penderita. Masalah ini
diperberat dengan masih tingginya stigma di kalangan masyarakat dan petugas,
akibatnya sebagian penderita dan mantan penderita dikucilkan sehingga tidak
mendapatkan akses pelayanan kesehatan dan pekerjaan yang berakibat pada
meningkatnya angka kemiskinan.
Jumlah penderita kusta di Kalimantan
Tengah dilaporkan sebanyak 154 orang dan yang telah selesai menjalani
pengobatan (RFT) sebanyak 77 orang
(50%), lebih lanjut pada tabel SPM 32.
2. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan
imunisasi (PD3I)
PD3I merupakan penyakit yang diharapkan dapat diberantas/
ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi, pada profil ini penyakit yang
akan dibahas antara lain penyakit tetanus eonatorum, campak, difteri, pertusis
dan hepatitis B.
2.a. Tetanus Neonatorum
Jumlah kasus tetanus neonatorum di
Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 175 kasus dengan angka kematian (CFR) 56% (Profil Kesehatan Indonesia 2003,
Depkes). Angka ini sedikit menurun bila dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini
diduga karena meningkatnya cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Namun
secara keseluruhan CFR masih tetap tinggi. Penanganan kasus tetanus neonatorum
memang tidak mudah, sehingga yang terpenting adalah usaha pencegahan yakni
pertolongan persalinan yang higienis dan
ditunjang dengan imunisasi TT pada ibu hamil. Jumlah kasus tetanus neonatorum
di Kalimantan Tengah sebanyak 4 kasus (Tabel SPM 35).
2.b. Campak
Campak merupakan penyakit menular
yang sering menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB). Secara nasional selama tahun
2004 frekuensi KLB campak menempati
urutan kedua setelah DBD. KLB Campak 2004 terjadi sebanyak 97 kali dengan jumlah kasus sebanyak
2.818 dan 44 kematian atau CFR 1,56% (Profil Kesehatan Indonesia 2004, Depkes).
Dari kompilasi data profil kabupaten/
kota terdapat
955 kasus campak yang terjadi di Kalimantan Tengah (Tabel SPM 35).
2.c. Difteri
Difteri termasuk penyakit
menular yang jumlah kasusnya relatif
rendah. Rendahnya kasus difteri sangat
dipengaruhi adanya program imunisasi. Di Indonesia selama tahun 2004
frekuensi KLB difteri terjadi 34 kali dengan jumlah kasus sebanyak 106 dan CFR
9,4% (Profil Kesehatan Indonesia 2004, Depkes). Jumlah kasus difteri di
Kalimantan Tengah sepanjang tahun 2005 sebanyak 3 kasus, 2 kasus di Kapuas dan
1 kasus di Palangka Raya (Tabel SPM 35).
2.d. Pertusis/ Batuk Rejan
Jumlah kasus pertusis di Kalimantan Tengah pada
tahun 2005 hanya terjadi di Kabupaten Kotawaringin Timur sebanyak 12 kasus
(Tabel SPM 35).
2.e. Hepatitis B
Sepanjang tahun 2005 di Propinsi
Kalimantan Tengah kasus hepatitis B ditemui di 2 kabupaten yaitu Kabupaten
Kotawaringin Timur sebanyak 13 kasus dan Kabupaten Barito Selatan sebanyak 14
kasus (tabel SPM 35).
Gambar
3
Proporsi
Kasus PD3I yang Dilaporkan
Di
Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2005

3. Penyakit Potensi KLB/ Wabah
3.a. Demam Berdarah Dengue
Penyakit demam berdarah dengue (DBD)
telah menyebar luas ke seluruh wilayah propinsi. Penyakit ini sering muncul
sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian relatif tinggi. Angka insiden
DBD secara nasional berfluktuasi dari tahun ke tahun. Pada awalnya pola
epidemik terjadi setiap lima
tahunan, namun kurun waktu lima
belas tahun terakhir mengalami perubahan dengan periode 2-5 tahunan sedangkan
angka kematian cenderung menurun.
Pada tahun
2004 terjadi KLB DBD di Indonesia. Pemerintah melalui Departemen Kesehatan
dalam press release tanggal 16 Februari 2004, menetapkan bahwa telah terjadi
KLB di Indonesia dan ditetapkan 12 propinsi sebagai propinsi KLB, sementara itu
Kalimantan Tengah dan 8 delapan propinsi
lainnya ditetapkan sebagai propinsi dengan peningkatan kasus.
Upaya
pemberantasan DBD dititik beratkan pada penggerakan potensi masyarakat untuk
dapat berperan serta dalam pemberantasan sarang nyamuk (gerakan 3M), pemantauan
angka bebas jentik (ABJ) dan penanganan di rumah tangga.
Dari
kompilasi data profil kesehatan kabupaten/ kota sepanjang tahun 2005 di
Kalimantan Tengah ditemukan 512 kasus, dengan jumlah kasus terbanyak 324 yang
terjadi di Kabupaten Kotawarngin Timur. Jumlah ini sedikit meningkat dari tahun
sebelumnya, dimana tahun 2004 ditemukan 462 kasus (Tabel SPM 14).
3.b. Diare
Pada
tahun 2004, di Indonesia diare merupakan penyakit dengan frekuensi KLB kelima
terbanyak setelah DBD, Campak, Tetanus
Neonatorum dan keracunan makanan. Angka kesakitan diare di Kalimantan Tengah
dari tahun 2000-2004 fluktuatif dari 15,87 sampai 23,45. Pada tahun 2005 kasus
diare sebanyak 38.979 dan sebanyak 14.630 adalah balita (Tabel SPM 14).
3.c. Filariasis
Program
eliminasi filarisis dilaksanakan atas dasar kesepakatan global WHO tahun 2000
yaitu “ The Global Goal of Elimination of Lymphatic Filariasis as a Public
Health Problem The Year 2020”. Di Indonesia sampai dengan tahun 2003 kasus
kronis Filariasis telah menyebar ke 30 propinsi dan telah ditemukan 3 spesies
cacing yaitu Wucherecia bancrofti, Brugia malayi, dan Brugia timori. Penderita
filariasis di Propinsi Kalimantan Tengah sebesar 97 kasus dan kasus terbanyak
terdapat di Kabupaten Kotawaringin Timur (Tabel SPM 33).
B. STATUS GIZI
Status gizi seseorang erat kaitannya
dengan permasalahan kesehatan individu, karena disamping merupakan faktor
predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi, juga dapat menyebabkan
terjadinya gangguan kesehatan. Bahkan status gizi janin yang masih dalam
kandungan dan bayi yang masih menyusui sangat dipengaruhi oleh status gizi ibu
hamil dan ibu menyusui.
Status gizi masyarakat dapat diukur
melalui beberapa indikator, antara lain bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah
(BBLR), status gizi balita, status gizi wanita usia subur Kurang Energi Kronis
(KEK).
1. Bayi dengan
Berat Badan Lahir Rendah
Berat Badan Lahir Rendah (kurang dari
2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap
kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan atas 2 kategori yaitu BBLR
karena premature dan BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu
bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang
banyak BBLR karena IUGR karena ibu berstatus gizi buruk, anemi, malaria dan
menderita penyakit menular seksual(PMS)
sebelum konsepsi atau saat kehamilan. Dari kompilasi data profil kesehatan
kabupaten/ kota diperoleh gambaran dari 39.353 kelahiran hidup terdapat 451
bayi dengan BBLR dan 373 bayi (83%) BBLR yang sudah tertangani (Tabel SPM 2).
2. Status Gizi
Balita
Status gizi balita merupakan salah
satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu
cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara antropometrik yang menggunakan indeks Berat badan menurut
umur balita kemudian disetarakan dengan standar baku rujukan WHO-NCHS utuk
mengetahui status gizinya. Ada 4 status gizi balita yang ditentukan menurut
berat badan/ umur (BB/ U):
Gizi Buruk : <
- 3 SD
Gizi
Kurang : -
3 SD sampai – 2 SD
Gizi Baik : -
2 SD sampai + 2 SD
Gizi Lebih : >
+ 3 SD
Pemantauan status gizi (PSG) balita di
Propinsi Kalimantan Tengah tahun 2005 dilaksanakan di 14 kabupaen/ kota dengan
jumlah balita yang diukur sebanyak 54.051 dan hasilnya terdapat pada tabel
dibawah ini:
Tabel
2
Hasil
Pemantauan Status Gizi (PSG) Balita
Propinsi Kalimantan Tengah
tahun 2005
|
No
|
Kabupaten/
Kota
|
Jumlah
Anak
|
Status
Gizi Menurut BB/ U
|
|||||||
|
Buruk
|
Kurang
|
Baik
|
Lebih
|
|||||||
|
Anak
|
%
|
Anak
|
%
|
Anak
|
%
|
Anak
|
%
|
|||
|
1
|
Lamandau
|
821
|
4
|
0,5
|
26
|
3,2
|
777
|
94,6
|
14
|
1,7
|
|
2
|
Sukamara
|
456
|
21
|
4,6
|
31
|
6,8
|
389
|
85,3
|
15
|
3,3
|
|
3
|
Kotawaringin
Barat
|
17.033
|
384
|
2,3
|
2.233
|
13,1
|
13.825
|
81,2
|
591
|
3,5
|
|
4
|
Seruyan
|
2.289
|
40
|
1,7
|
110
|
4,8
|
2.134
|
93,2
|
5
|
0,2
|
|
5
|
Kotawaringin
Timur
|
8.432
|
96
|
1,1
|
492
|
5,8
|
7.594
|
90,1
|
250
|
3
|
|
6
|
Katingan
|
2.601
|
127
|
4,9
|
536
|
20,6
|
1.884
|
72,4
|
54
|
2,1
|
|
7
|
Gunung Mas
|
9.520
|
0
|
-
|
847
|
8,9
|
8.240
|
86,6
|
433
|
4,5
|
|
8
|
Palangka Raya
|
789
|
4
|
0,5
|
151
|
19,1
|
631
|
80
|
3
|
0,4
|
|
9
|
Pulang Pisau
|
1.345
|
53
|
3,9
|
264
|
19,6
|
1.011
|
75,2
|
7
|
1,3
|
|
10
|
Kapuas
|
2.644
|
66
|
2,5
|
396
|
14,9
|
2.176
|
81,7
|
26
|
1
|
|
11
|
Barito Timur
|
2.077
|
58
|
2,8
|
447
|
21,5
|
1.535
|
73,9
|
37
|
1,8
|
|
12
|
Barito
Selatan
|
2.849
|
44
|
1,5
|
434
|
15,2
|
2.312
|
81,2
|
59
|
2,1
|
|
13
|
Barito Utara
|
839
|
0
|
-
|
77
|
9,2
|
728
|
86,8
|
34
|
4,1
|
|
14
|
Murung Raya
|
2.336
|
29
|
1,2
|
196
|
8,4
|
2.090
|
89,5
|
21
|
0,9
|
|
Kalimantan Tengah
|
54.051
|
926
|
1,7
|
6.240
|
11,5
|
45.326
|
83,9
|
1.559
|
2,9
|
|
Sumber :
Laporan PSG Program Gizi tahun 2005
Dari hasil PSG diatas bila dibandingkan antara tahun 2004
dan 2005, ada sedikit perbedaan dimana status gizi lebih, gizi baik dan gizi
buruk lebih tinggi dibanding tahun 2004. Hasil status gizi kurang pada tahun
2004 (15,4%) lebih tinggi dibanding tahun 2005 (11,5%) dan status gizi buruk
meningkat tahun 2005 (1,7%) dibandingkan tahun 2004 (1,0%).
Dari hasil PSG yang dilakukan oleh Program Gizi setiap
tahunnya angka gizi buruk dari tahun 2003-2005 mengalami fluktuatif yang dapat
dilihat pada grafik dibawah ini:
Gambar 4
Perkembangan Kasus Gizi Buruk
Di Propinsi Kalimantan Tengah
Tahun 2003-2005

Sumber
: Laporan PSG Program Gizi tahun 2005
3. WUS yang mendapat kapsul Yodium
Salah satu masalah gizi yang perlu mendapat perhatian
adalah gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY). GAKY dapat mengakibatkan
gangguan pertumbuhan fisik dan keterbelakangan mental. Gangguan pertumbuhan
fisik meliputi pembesaran kelenjar tiroid (gondok), bisu, tuli, kretin
(kerdil), gangguan motorik, dan mata juling. Pemberian kapsul Yodium
dimaksudkan untuk mencegah lahirnya bayi
kretin, karen itu sasaran pemberian kapsul Yodium adalah Wanita Usia Subur
(WUS) termasuk ibu hamil dan ibu nifas. Angka
prevalensi gondok atau Total Goiter Rate (TGR) dihitung berdasarkan
seluruh stadium pembesaran kelenjar, baik yang teraba maupun yang terlihat.
GAKY masih dianggap masalah kesehatan masyarakat, karena secara umum prevalensinya
masih diatas 5%. Berdasarkan laporan Seksi Gizi Dinas Kesehatan Propinsi
Kalimantan Tengah dari hasil survei tahun 2003 TGR di Kalimantan Tengah sebesar
14%.
Berdasarkan kompilasi profil kesehatan kabupaten/ kota
tahun 2005 jumlah WUS di Kalimantan Tengah sebanyak 300.588 dan WUS yang
mendapat kapsul Yodium sebanyak 58.829 (19,57%). Bila ditinjau berdasarkan
desa/ kelurahan endemis maka terdapat 25 desa/ kelurahan dengan endemis berat
dan 33 desa dengan endemis ringan (Tabel SPM 29)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar